oleh

Pemerintah Sudah Indentifikasi Integrasi Kebun Sawit – Sapi

Program intergrasi sawit-sapi yang diinisiasi pemerintah sudah berjalan lama, yaitu sejak tahun 2017-2018. Bahkan, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan, telah melakukan mengidentifikasi potensi lahan sawit yang bisa diintegrasikan dengan sapi.

Sayangnya tak banyak perusahaan perkebunan sawit yang melirik kegiatan tersebut. Padahal jika menakar keuntungannya, peluangnya cukup gemuk. “Bahkan Kementerian Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No.105 Tahun 2014 tentang Integrasi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit dengan Usaha Budidaya Sapi Potong”, ujar Koordinator Kelapa Sawit Ditjen Perkebunan, Agus saat FGD Peluang Integrasi Sawit yang digelar di Jakarta, Rabu (2/6).

Data Ditjen Perkebunan, saat ini ada 16,38 juta hektar lahan perkebunan yang potensi untuk integrasi dengan peternakan sapi. Dari luasan tersebut memang ada sekitar 3 juta hektar lahan kebun sawit yang masuk dalam kawasan hutan. “Luas lahan kebun sawit itu ada yang dimiliki rakyat, swasta dan perusahaan negara,” katanya.

Potensi lainnya menurut Agus adalah, tersedia bio massa pakan untuk sapi sepanjang tahun. Diantaranya berupa, pelepah dan daun sawit, hijauan dibawah naungan sawit, bungkil sawit dan solid.

Jenis bio massa tersebut yakni daun lidi sebanyak 1.430 kg segar atau 658 kg bahan kering, pelepah 20 ribu kg segar (5.214 kg kering), tandan kosong 3.680 kg segar (3.386 kg kering), seratperasan 2.880 kg segar (2.671 kg kering), lumpur sawit/solid 4.704 kg segar (1.132 kering) dan bungkil sawit 550 kg segar (524 kering).

Dengan catatan dari hasil penelitian tiap 1 hektar ada 130 pohon dan satu pohon dapat menyediakan pelepah sejumlah 22 pelepah. Tiap satu pelepah dengan bobot 2,2 kg (hanya 1/3 bagian yang dimanfaatkan). Bobot daun perpelepah sebesar 0,5 kg.

Baca Juga :   Dukung Pemulihan Ekonomi, Kementan Fasilitasi Kerjasama Petani Kelapa dengan Pengusaha

Sedangkan tandan kosong 23 persendari TBS dan produksi minyak sawit 4 ton/hektar. Tiap 1.000 kg TBS menghasilkan 250 kg minyak, 294 kg lumpur sawit, 180 kg serat perasan dan 35 kg bungkil kelapa sawit.

Selain itu, potensi lainnya adalah tersedianya potensi SDM petani untuk mengelola usaha pembiakan/ penggemukan sapi. “Dengan integrasi sawit-sapi akan mengurangi biaya pupuk dan herbisida di perkebunan sekitar 30 persen, meningkatkan produksi TBS (tandan buah segar) dan mewujudkan sawit ramah lingkungan,” kata Agus. Humas Ditjenbun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed