Olah Rimpang Jadi Simplisia Untuk Tingkatkan Imun Tubuh

Perkembangan teknologi menuntut kita untuk terus melakukan yang terbaik salah satunya yaitu melalui pengolahan TOGA (Tanaman Obat Keluarga) kini dirasa cukup penting untuk mendapatkan kualitas mutu kandungannya, sehingga mampu menghasilkan produk yang berkualitas baik.

SMK PP Negeri Sembawa terus menerus meningkatkan kompetensi siswa melalui pergerakan generasi milenial . Yang mana memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan dibidang pertanian melalui pengolahan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang kerap disapa SYL mengatakan bahwa pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik.

Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional,
Tentunya, untuk mendapatkan hasil pertanian yang maksimal, petani harus meminimalisir losses. Berarti, panen dan pascapanen harus dilakukan dengan baik” Ujar syahrul.

Senada dengan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi yang menegaskan bahwa Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm terutama pasca panen dan olahannya untuk menaikkan nilai pertanian.

“Disisi lain produk pertanian memiliki karakteristik tersendiri seperti mudah rusak, membutuhkan tempat penyimpanan, sifatnya musiman dan dihasilkan dari pedesaan. Oleh sebab itu, penanganan dan pengolahan produk pertanian tetap tersedia dan memiliki nilai ekonomis. Tegas dedi.

Pandemi Covid-19 yang kini belum usai, tidak hanya membatasi ruang gerak dan aktivitas masyarakat, sehingga sangat diperlukan agar tetap bisa menjaga sistem kekebalan tubuh yang baik.

Upaya tersebut ditempuh dengan cara seperti, makan makanan bergizi, berjemur dan mengkonsumsi produk biofarmaka. Tanaman biofarmaka atau yang lebih populer disebut tanaman obat keluarga merupakan tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan, kosmetik dan kesehatan.

Baca Juga :   Korporasi dan Food Estate Untuk Penguatan Daya Saing Tanaman Pangan

Dikutip dari artikel badan litbang mengenai penangan pasca panen dan pengolahan tanaman biofarmaka menyebutkan bahwa Pemanfaatan tanaman biofarmaka untuk kesehatan ini merujuk pada hasil rekomendasi WHO pada tahun 2005 serta hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanaman biofarmaka memiliki bahan aktif yang dapat menjadi imunomodulator (senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh) serta menjadi antivirus, seperti tanaman kunyit yang memiliki bahan aktif kurkumin yang bermanfaat sebagai imunomodulator dan antivirus yang menyerang pernafasan.

Jahe memiliki kandungan utama, yakni gingerol dan shogaol. Kedua kandungan inilah yang menyebabkan jahe terasa pedas dan hangat, sehingga sangat baik untuk metabolisme tubuh, pencernaan dan mengurangi rasa mual. Jahe juga memiliki efek sebagai antiinflamasi, antiradang, antibakteri dan antioksidan.

Tujuan pengolahan produk biofarmaka antara lain: untuk mendapatkan ekstrak bahan aktif dari tanaman, sebagai cara untuk pengawetan dan mempertahankan umur simpan, untuk penganekaragaman produk (diversifikasi) serta peningkatan nilai tambah dan memudahkan dalam pemasaran.

Teknologi pengolahan Tanaman Obat terdiri dari beberapa tahapan yaitu sortasi, pencucian, penirisan atau pengeringan, penyimpanan dan pengolahan. Sortasi dilakukan setelah panen pada komiditi tanaman obat. Tanaman obat yang diambil daun, rimpang atau umbi dibersihkan dari kotoran. Bagian tanaman yang sudah dipanen lalu dipisahkan dari bagian yang busuk, tanah, pasir maupun gulma yang menempel harus dibersihkan. Ada beberapa tanaman yang dihasilkan melalui umbi seperti jahe, kunyit, kencur dan keladi tikus.

Pengolahan jahe dan kunyit ini berupa bentuk simplisia,  yang mana simplisia merupakan hasil pengeringan dari tanaman obat yang belum diolah lebih lanjut atau baru dirajang saja yang kemudian dijemur. Ujar Desi.

Cara pengolahan dalam bentuk rimpang sangat lah sederhana yaitu Timbang rimpang yang akan diolah yaitu jahe dan kunyit. Lalu bersihkan, kemudian potong rimpang dengan tebal 3-5 mm, selanjutnya letakkan diatas tampa. Jemur dibawah sinar matahari hingga kering kurang lbh 3 hari. Tanda Simplisia kering berciri dapat dipatahkan dengan mudah. Tahap terakhir yaitu pengemasan.

Baca Juga :   Bersinergi dengan Kopi Merapi, Pusdiktan Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

Dari simplisia dapat diolah menjadi berbagai macam produk lanjutan seperti bubuk, minyak atsiri maupun kapsul yang tentunya dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan segar itu sendiri. SMKPP Negeri Sembawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *