Pospek Pemanfaatan Kelapa Eksotik

Ternyata Indonesia memiliki kekayaan kelapa unik yang bernilai ekonomi. Kelapa ini patut dikembangkan secara terencana untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dr. Ir. Ismail Maskromo, dalam paparan di webinar yang diselenggarakan oleh Gamal Institute (31/8), menyebutkan ada sejumlah jenis kelapa yang layak dilabeli eksotik. Indikatornya adalah memiliki keunikan yang berbeda dengan kelapa biasa.

Kelapa tersebut antara lain Kelapa Dalam Sri Gumintang, Kelapa Bido Morotai, Kelapa Kopyor Pati, Kelapa Genjah Entok, Kelapa Puan Kalianda dan Kelapa Pandan Wangi.

Kelapa Dalam Sri Gumintang disebut sebagai kelapa eksotik karena mampu tumbuh di lahan pasang surut dimana tanaman kelapa umumnya tidak bisa bertahan hidup. Sedangkan Kelapa Bido itu cepat berbuah dan lambat meninggi, jelas Peneliti dari Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pangan dan Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Ada juga jenis kelapa kopyor yang daging buahnya lunak yakni Kelapa Kopyor Genjah Pati dan Kelapa Dalam Puang Kalianda. Sementara itu, Kelapa Genjah Pandan Wangi asal Sumatera Utara memiliki aroma pandan saat kita mencium saat minum dan menyantap daging buahnya. Sementara untuk kelapa genjah  umumnya memiliki batang kecil dan buah relatif kecil. Tapi ini bertolak belakang dengan Kelapa Genjah Entok, batangnya kecil tapi ukuran buahnya besar.

Ismail Maskromo juga menjelaskan, daya tarik dari pengembangan kelapa eksotik ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Untuk Kelapa Kopyor Pati dengan 2 – 3 pohon sudah bisa menyekolahkan anak. Dari 1 ha kebun kelapa kopyor bisa diperoleh 7.200 butir kopyor. Dengan asumsi harga per butir Rp.25.000 maka akan diperoleh pendapatan Rp. 180 juta/ha per tahun”, jelas peneliti sekaligus Pemulia kelapa tersebut.

Baca Juga :   Yes, Kabar Baik dari Italia!! Nilai Kontrak Kerjasama Rempah Indonesia Tembus USD 4,2 juta

Sementara, untuk usaha perbenihan dengan asumsi 1 ha bisa mendapatkan bibit sebanyak 5.760 cikal dengan harga Rp.50.000 per cikal , maka diperoleh pendapatan Rp.288 juta per tahun.

Namun peneliti senior itu mengingatkan perlu adanya perencanaan dan konektivitas pada pasar. Ia juga menyarankan pengembangan kelapa eksotik memerlukan strategi komprehensif seperti memperbaiki populasi dan pohon induk sumber benih in situ dan mengembangkan kebun induk sumber benih baru kelapa eksotik di sentra produksi kelapa. Selain itu juga, perlu dilakukan pengembangan kebun kelapa eksotik secara terpadu dengan komoditi lain yang bernilai ekonomi tinggi.

(Sub Koordinator Kelembagaan Produksi Benih, Kelompok Kelembagaan Benih, Direktorat Perbenihan Perkebunan) Halomoan Hendratno, SP., MMA, dan (Fungsional Pranata Humas Ahli Madya) Drs. Nono Suharyono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *