Gurih, Lezatnya Abon Kerbau Produksi SMK PP Kementan

SEMBAWA – Generasi milenial yang menjadi penopang kehidupan bangsa Indonesia ke depan sehingga harus menjadi motor penggerak perubahan. Sebagai agen perubahan, generasi milenial ini harus mulai berpikiran terbuka dan mengasah dirinya agar memiliki soft skill serta kecakapan menangani persoalan yang komplek.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahawa Kementan terus meningkatkan kualitas SDM pertanian dan membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik serta menguntungkan.

“Pertanian kita harus mandiri dan modern sehingga keluarga petani semakin sejahtera. Di samping itu, pertanian harus bisa menarik minat generasi muda sebagai profesi yang menjanjikan,” tegas Mentan.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, juga menegaskan bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama.

“Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru,” paparnya.

Salah satu terobosan yang dilakukan generasi millenial yakni siswa/siswi SMK PP Negeri Sembawa, adalah memanfaatkan daging kerbau untuk dibuat olahan Abon. Daging kerbau merupakan salah satu bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan, baik secara fisik, kimia maupun mikrobiologis sehingga memiliki umur simpan yang singkat.

Hal tersebut mendorong berbagai teknologi pengolahan daging untuk mengolah daging menjadi produk yang memiliki umur simpan lebih lama. Pengolahan dilakukan untuk mendapatkan bahan pangan yang aman dikonsumsi sehingga nilai gizi yang terkandung didalamnya dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Abon jenis lauk pauk kering berbentuk khas dengan bahan baku pokok berupa daging atau ikan. Pengolahan abon dilakukan dengan cara direbus, dicabik-cabik, bisa juga di haluskan hingga menjadi bubur, lalu dibumbui, digoreng, dipres.

Baca Juga :   Antusias Siswa PAUD di Agroeduwisata SMKPP Kementan

Abon tergolong produk olahan daging yang awet. Untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan, abon dikemas dalam kantong plastik dan ditutup dengan rapat. Dengan cara demikian, abon dapat disimpan pada suhu kamar selama beberapa bulan.

Erni Prabawati mengatakan bahwa abon ini merupakan salah satu makanan yang praktis sajiannya, dan digemari oleh berbagai kalangan masyarakat.

Proses pembuatan abon ini menggunakan daging kerbau. Dengan adanya teknologi pengolahan abon daging kerbau tersebut diharapkan akan menjadi produk dengan mutu produk yang lebih baik dan memiliki keawetan yang lebih lama serta dipasarkan secara luas dengan rasa yang lezat dan gurih.

Tahapan pembuatan abon ini yakni rebus daging hingga matang lalu angkat dan tiriskan selanjutnya lunakkan daging dengan cara di blander, panaskan minyak dan tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daging yang telah menjadi bubur aduk hingga rata, tambahkan ketumbah bubuk, garam dan gula lalu aduk rata, masak daging dengan berubah warna agak kecoklatan, lalu koreksi rasa sambil diaduk.

Angkat dan tiriskan, selanjutnya abon di spiner untuk memisahkan antara abon dan minyak, diamkan hingga dingin. Siap untuk di kemas.

Banyak cara untuk dapat menikmati lezat dan gurihnya abon daging kerbau. Selain praktis, awet, dan mudah dibawa saat bepergiaan. Abon juga bisa dinikmati dengan cara hanya dimakan dengan menggunakan nasi putih hangat saja.

Selain itu, bisa dijadikan sebagai topping atau rasa tambahan pada roti dan beberapa makanan lainnya. Sehingga bisa dijadikan prospek usaha karena sudah lama dikenal dan digemari oleh semua kalangan masyarakat Indonesia. SMKPP Negeri Sembawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *