Mendukung Teknologi Budidaya Terhadap Daya Saing Jambu Mete Indonesia

Oleh : Elis Yuningsih (PMHP Ahli Muda)

Jambu mete mempunyai kontribusi yang cukup signifikan dalam perekonomian wilayah Timur Indonesia, akan tetapi pengembangan jambu mete  masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang perlu segera diatasi, diantaranya masalah yang terkait dengan rendahnya penerapan inovasi teknologi yang berakibat pada rendahnya efisiensi produksi dan daya saing jambu mete Indonesia.

Kunci utama dalam peningkatan daya saing jambu mete adalah keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan kreativitas dalam melakukan terobosan-terobosan serta daya saing antar wilayah yang mampu mendukung dan mengubah komoditas jambu mete menjadi produk unggulan. Peningkatan efisiensi harus dilakukan pada tingkat on-farm (produksi) melalui kombinasi input untuk dapat menghasilkan output yang optimal dengan biaya yang efisien maupun off-farm (pengolahan, distribusi dan pemasaran produk) melalui penghapusan biaya transaksi yang tinggi. Status agribisnis jambu mete tidak terbebas dari pengaruh persaingan global. Peningkatan daya saing jambu mete melalui pemanfaatan inovasi teknologi menjadi hal krusial yang harus terus dilakukan dan ditingkatkan agar dapat bersaing di pasar global.

Analisis dilakukan dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan di lapang dan respon dari petani/produsen di lapang melalui survey dan wawancara, serta hasil wawancara dengan pemerintah daerah. Data primer utamanya terkait dengan variabel penentu dalam penerapan inovasi teknologi, serta kinerja dari inovasi yang telah diterapkan oleh petani dan stakeholder,

Lokasi analisis akan ditentukan secara purposive random sampling dengan pertimbangan merupakan lokasi bagi pengembangan komoditas jambu mete, beberapa lokasi yang berpeluang untuk dijadikan lokasi analisis antara lain Provinsi Sulawesi Tenggara (Kabupaten Muna dan Buton Tengah)  Propinsi Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur)  dan Nusa Tenggara Timur (Flores Timur dan Lembata)  dengan jumlah responden sebanyak 176 KK

Baca Juga :   Metode Unggul Perbanyakan Kelapa Kopyor

Adapun variabel-variabel analisa antara lain : karakteristik responden, kepemilikan lahan, akses terhadapsarana produksi dan pemasran hasil dan tanggapan petani terhadap teknologi budidaya anjuran (penggunaan benih, pemupukan, pengendalian OPT, panen dan pasca panen.

Identifikasi inovasi teknologi akan dilaksanakan untuk mengidentifikasi beberapa teknologi yang telah dihasilkan dan digunakan oleh pengguna meliputi teknologi untuk mencapai produksi yang baik (Good Farming Practices), penanganan hasil panen yang baik (Good Handling Practices), (3) pengolahan hasil jambu mete yang baik (Good manufacturing practices).

Faktor internal yang menjadi kekuatan utama pengembangan jambu mete adalah ketersediaan varietas unggul dan teknologi budidaya pendukung.  Faktor internal yang menjadi kelemahan dan harus menjadi prioritas utama untuk diatasi dalam usahatani jambu mete adalah keterbatasan saprodi, mahalnya tenaga kerja dan keterbatasan modal yang dimiliki oleh petani.

Faktor eksternal yang menjadi peluang terbesar dalam usahatani jambu penciptaan pasar baru dan pengembangan produk turunannya untuk pasar dalam negeri, dengan berkembangnya tujuan wisata di daerah penghasil mete seperti Mandalika di NTB dan Pulau Komodo di NTT memberikan peluang bagi petani dan industri untuk meningkatkan pasar produknya. Faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar dan menjadi prioritas utama untuk diantisipasi dalam usahatani jambu mete adalah resiko dan ketidakpastian iklim, serta persaingan dengan negara produsen lainnya.

Berdasarkan analisis SWOT, maka strategi yang direkomendasikan untuk mengembangkan usahatani jambu mete di wilayah kajian adalah Strategi SO (Strengths-Opportunities), yaitu: (1) memulihkan kesuburan tanah melalui penambahan pupuk organik, (2) meningkat produksi melalui pemangkasan tajuk dan penjarangan, (3) peningkatan kualitas dan kuantitas produk melalui diversifikasi vertical dan horizontal.

Inovasi teknologi yang mendukung pengembangan jambu mete telah banyak dihasilkan, berupa teknik budidaya dan metode dalam  manajemen pertanian yang baik (good agricultural practices, GAP); input produksi (benih/bibit unggul, pengolahan hasil kacang dan produk samping jambu mete, alat/mesin pengacip, dan lainnya, akan tetapi implementasi di tingkat petani perlu dikaji lebih lanjut. Untuk itu telah dilakukan kajian penerapan inovasi teknologi yang telah dihasilkan di tiga senta produksi jambu mete yaitu di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tenggara,

Baca Juga :   Prestasi BBPP Ketindan Tahun 2022

Hasil Analisa

Telah terjadi penurunan produksi jambu mete di ketiga lokasi kajian disebabkan oleh umur tanaman yang sudah tua (30 tahun) dan tajuknya sudah menyatu (overlap), serta penggunaan input produksi dan mengendalian OPT yang minimal. Perubahan iklim dengan curah hujan yang tidak menentu, menyebabkan fluktuasi hasil dan penurunan produktivitas. Untuk mengantisipasinya, perlu program adaptasi dan mitigasi iklim dalam pengembangan jambu mete.

Keberagaman produktivitas jambu mete antar sentra produksi disebabkan oleh perbedaan tanggap petani terhadap teknologi budidaya anjuran, ketersediaan sarpras dan modal.

Penjarangan dan pemangkasan tanaman jambu mete berdampak pada peningkatkan produktivitas. Program penjarangan dan pemangkasan disarankan disertai program peremajaan jambu mete dengan benih hasil sambung (grafting) varietas unggul Flotim I atau varietas unggul setempat. Input produksi terutama pupuk an-organik sangat terbatas digunakan oleh petani karena mahal dan tidak disubsidi. Ternak sapi yang diharapkan dapat menghasilkan pupuk organik sulit terealisasi, karena lokasi kandang jauh dari kebun. Oleh karena itu untuk pemenuhan pupuk organic, diperlukan bantuan alat pencacah serasah daun jambu mete dan chain shaw, serta sosialisasi teknologi pemanfaatnya.

Petani menyadari bahwa penerapan teknologi budidaya akan meningkatkan produktivitas, resiko kegagalan panen, perbaikan vigor tanaman, serta mutu jambu mete. Akan tetapi teknologi yang diperlukan belum sepenuhnya sampai ke petani, penerapannya relatif mahal, dan petani masih ragu akan keberhasilan teknologi tersebut, serta belum merasa terampil untuk menerapkannya. Keberhasilan penerapan budidaya anjuran sangat tergantung dari aktivitas penyuluh, informasi dari sesama petani dan motivasi dari diri petani untuk mendapatkan informasi, yang menjadi kendala adalah belum ada penyuluh khusus untuk komoditas jambu mete. Sosialisasi penerapan budidaya jambu mete akan efektif bila dilakukan secara verbal dan contoh nyata, untuk itu program pembangunan demplot dan diseminasi melalui audio visual pada wilayah potensial perlu dilakukan.

Baca Juga :   Januari – April 2022, BPS Sebut Produksi Padi Akan Meningkat 7,7 Persen

Harga gelondong mete di semua wilayah kajian sangat fluktuatif,  berdampak pada pendapatan dan kemampuan petani untuk mengembangkan usahataninya. Pedagang pengumpul adalah penentu harga dan penyedia modal usaha, sehingga beberapa petani terjerat oleh sistim ijon. Program pemerintah untuk menjadikan jambu mete sebagai salah satu sumber devisa perlu didukung dengan penyediaan input produksi yang memadai, karena keterbatasan modal yang dimiliki petani maka perlu dikaji lebih lanjut skema permodalan bagi petani baik melalui KUR atau input produksi lainnya. HBUN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *