Padi Hibrida MAPAN P-05, Alternatif Varietas Tingkatkan Produksi Padi Nasional

PONOROGO – Pemilihan benih unggul merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan petani untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal. Benih padi hibrida kini banyak dipilih petani karena potensi hasil yang lebih tinggi daripada padi inbrida. Selain itu, padi hibrida memiliki butiran padi yang dihasilkan lebih bagus dengan kualitas nasi yang lebih pulen dan wangi.

MAPAN P-05 dari PT. Primaseed Andalan Utama adalah salah satu alternatif benih padi hibrida unggul dan bermutu yang dapat ditanam oleh petani. Varietas ini mempunyai potensi hasil hingga 13 ton/ha dengan umur tanam 100-105 hst (hari setelah tanam). MAPAN P-05 cocok ditanam di sawah dataran rendah sampai menengah (ketinggian 50-300 mdpl) dengan pengairan terjamin.

Tujuan pembangunan pertanian adalah menyediakan pangan bagi 273 juta penduduk Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menggenjot ekspor, hal ini seperti dijelaskan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDm Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

“Kita harus meningkatkan keunggulan komparatif, itu yang harus digenjot. Indonesia mempunyai keunggulan komparatif yang bisa diolah dengan cara cerdas. Salah satunya dengan menggunakan smart farming sebagai pertanian cerdas, yang dilakukan orang cerdas dan cara cerdas serta menggunakan varietas tinggi bermutu,”tegas Dedi.

Muryadi, Ketua Poktan Sido Makmur II Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, menanam varietas MAPAN P-05 di lahan sawahnya seluas 4.200 m2 pada musim tanam pertama tahun 2024 ini.

Benih padi varietas yang ditanam Muryadi ia beli dari daerah lain. Harganya cukup tinggi dan fluktuatif jika dibandingkan dengan benih padi yang biasa dipakai oleh petani sekitar. Namun, penggunaan benih jauh lebih sedikit dibandingkan penggunaan benih lainnya. Untuk lahan seluas 4.200 m2 miliknya hanya dibutuhkan 3 Kg benih, padahal biasanya dibutuhkan sekitar 10 Kg. Hal ini dikarenakan pada saat tanam, hanya menggunakan satu batang bibit padi per titik. Muryadi menggunakan sistem tanam tegel dengan ukuran 25 cm x 25 cm.

Baca Juga :   BPP Kokap yang Semakin Gemerlap

Untuk perawatan tanaman, varietas ini tak jauh berbeda dengan varietas lainnya. Muryadi melakukan pemupukan sebanyak dua kali. Pemupukan pertama menggunakan TSP sebanyak 100 Kg dan Urea sebanyak 50 Kg. Sementara pemupukan susulan menggunakan pupuk NPK sebanyak 50 Kg, Urea sebanyak 50 Kg, dan Phonska Plus sebanyak 25 Kg.

Selasa, 2/04/2024 lalu, Muryadi bersama tim Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Jenangan melakukan kegiatan ubinan untuk memperkirakan hasil panen varietas MAPAN P-05. Dari sampel seluas 2,5 m x 2,5 m, didapatkan hasil padi sebanyak 5,985 Kg.

Artinya, perkiraan produktivitas tanaman adalah sebesar 9,576 ton/Ha. Adapun jumlah anakan rata-rata sebanyak 16 anakan per rumpun dengan jumlah bulir rata-rata 202 bulir per malai. Hasil ini cukup tinggi jika dibandingkan varietas yang biasa ditanam petani di Desa Plalangan. Selama ini, rata-rata produktivitas tanaman padi hanya sekitar 7 ton/Ha. Artinya ada kenaikan lebih dari 2 ton/Ha.

Tim BPP Kecamatan Jenangan yakin bahwa hasil ini masih bisa ditingkatkan dengan catatan dilakukan pemenuhan semua kebutuhan tanaman, baik pupuk maupun pengairan, serta pengendalian hama penyakit tanaman secara terpadu.

Dengan hasil ubinan ini, varietas MAPAN P-05 layak untuk dipertimbangkan sebagai salah satu varietas padi hibrida yang dapat ditanam khususnya di Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Penggunaan varietas ini diharapkan dapat meningkatkan produksi padi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Ponorogo.

Dibalik keunggulannya, varietas hibrida sendiri memiliki beberapa kelemahan yang perlu diketahui oleh petani. Diantaranya adalah kualitas hasilnya akan berkurang jauh apabila berasal dari tanaman turunannya. Artinya, padi harus berasal dari bibit baru, karena apabila hasil panen kemudian ditanam ulang, hasil ini akan berbeda dengan bibit aslinya. Selain itu, harga benih varietas hibrida termasuk yang mahal dan membutuhkan sarana serta infrastruktur yang lebih memadai dalam budidayanya. Purwati/Asep/Yeni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *