Jaga Produksi, Kementan Sigap Atasi Serangan Kumbang Tanduk

Surabaya – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dalam hal ini Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Perkebunan (BBPPTP) Surabaya lakukan sosialisasi pengendalian serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) pada tanaman palma, bersama dua kelompok tani Ngudi Subur dan Tani Subur dari Desa Kalibatur serta stakeholder terkait, di Balai Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungangung, Selasa (23/04/24). Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk jaga kualitas mutu hasil panen.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Andi Nur Alam Syah mengatakan, total luas wilayah pengendalian kumbang tanduk di Desa Kalibatur ini seluas 125 Ha. Serangan kumbang tanduk juga bisa menimpa pada tanaman kelapa sawit, ditambah lagi adanya cuaca ekstrim, untuk itu pengendalian OPT harus segera dilakukan dan perlu kolaborasi dengan berbagai pihak.

Saat lakukan sosialisasi, Plt. Kepala BBPPTP Surabaya Andi Faisal menjelaskan, serangan OPT menjadi tantangan yang sering dialami pekebun dalam budidaya tanaman kelapa. Serangan OPT kumbang tanduk mempengaruhi hasil produktivitas kelapa karena imago kumbang tanduk menyerang pelepah daun kelapa muda yang berdampak pelepah daun kelapa patah atau daun kelapa menjadi terpotong membentuk seperti kipas.

“Diharapkan dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, dapat membantu pekebun dalam melakukan pengendalian kumbang tanduk secara terpadu pada pusat-pusat serangan, agar intensitas serangan kumbang tanduk menurun, dan kualitas hasil produksi maupun produktivitas tetap terjaga,” terang Andi Faisal.

Lebih lanjut Andi Faisal menambahkan, pengendalian kumbang tanduk ini dapat diterapkan dengan teknologi perangkap feromon.

“Teknologi perangkap feromon dimaksudkan untuk menangkap imago kumbang tanduk dan selanjutnya dimusnahkan. Pembuatan perangkap perkembangbiakan dengan pengaplikasian Metarhizium sp. Selain itu bisa melakukan sanitasi kebun dari sisa-sisa tanaman, bisa juga fermentasi kotoran ternak dan ditambahkan Metarhizium sp. agar tidak menjadi tempat berkembangnya larva kumbang tanduk. Solusi yang kita sosialisasikan ke pekebun ini semoga dapat mengurangi serangan OPT tersebut,” tambah Andi Faisal. Humas Ditjenbun

Baca Juga :   Kenalkan Pangan Alternatif, Situbondo Launching Resto Pakan Ternak dan Gelar Produk Sorgum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *