Pastikan Transfer Knowladge Maksimal, Guru SMKPPN Kementan Ikuti TOT Smart Farming dan Digitalisasi Pertanian

SEMBAWA – Jargon Pertanian Maju, Mandiri dan Modern yang digaungkan Kementerian Pertanian (Kementan), mendapat respon positif dari para pelaku usaha yang mulai menerapkan internet of think (IoT). Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya pertanian berbasis smart farming baik dari sisi hulu maupun sisi hilir.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, terus mendorong inovasi pertanian yang mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sebagai bentuk nyata dukungan tersebut, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menggelar kegiatan TOT Smart Farming dan Digitalisasi Pertanian bagi Widyaiswara, Dosen, Guru dan Penyuluh Pertanian di PPMKP Ciawi Bogor pekan lalu.

“Kementan melaksanakan ToT yang diikuti beberapa UPTD seluruh Indonesia berkumpul. Tentu saja ada dosen Widyaiswara, guru, jajaran pertanian, PPL,” katanya.

Mentan menambahkan, kegiatan ini dimaksudkan agar terjadi transfer of knowledge, transfer keterampilan pertanian biar lebih maksimal.

“Khususnya untuk mengantisipasi perubahan iklim ekstrem yang terjadi juga yang ada di Indonesia. Kita punya alam yang bagus keterampilan yang banyak dan semua terus kita perbaiki,” katanya.

Menurutnya, ToT akan memberikan keyakinan untuk melakukan Implementasi dari pelaksanaan teknologi pertanian.

“Termasuk cara-cara baru pertanian, menggunakan digital system pertanian, dan smart farming pertanian. Ini tidak mudah, tetapi Kementan bersama BPPSDMP memaksakan diri untuk adaptasi cuaca yang sangat ektrem ini. Oleh karena itu, BPPSDM dan Litbang harus berada di lapangan membantu penyuluh,” tegas Mentan Syahrul.

Sementara Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan pelaksanaan TOT Smart Farming dan Digitalisasi Pertanian dilakukan untuk mengimplementasikan pertanian cerdas dengan penerapan digitalisasi pertanian dengan Internet of Things (IoT), membentuk ekosistem pertanian dengan pembukaan akses pasar kepada petani, sehingga penghasilan petani terjamin serta mengoptimalkan inklusi keuangan perbankan di desa

Baca Juga :   Qatar, Tujuan Berikutnya Pasar Ekspor Rempah Indonesia

“Kita didera perubahan iklim dan bantai Covid 19. Sendi-sendi kehidupan kita benar-benar terpuruk. Dalam kondisi demikian, bagaimana caranya produktivitas dan produksi pertanian terus meningkat. Karena, tidak mungkin jika produktivitas turun kita bisa eksis. Mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, produktivitas harus naik. Solusinya adalah smart farming dan digitalisasi pertanian,” katanya.

Dedi menambahkan, Kementerian Pertanian punya kebijakan. Salah satunya ada di CB4, cara bertindak ke empat.

“Intinya, bagaimana kita mencapai kesejahteraan pangan adalah membangun smart farming di seluruh pelosok tanah air,” katanya.

Beliau pun menjelaskan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yaitu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian di bidang teknologi smart farming. Sasaran kegiatan pelatihan adalah 60 (enam puluh) orang aparatur pertanian (widyaiswara, dosen, guru dan penyuluh pertanian) lingkup BPPSDMP. Sedangkan output kegiatan pelatihan adalah meningkatnya kapasitas sumber daya manusia pertanian dalam menghasilkan usaha agribisnis modern berbasis smart farming ditingkat pelaku usaha/petani.

“Smart Farming merupakan bio sains teknologi. Karena dalam smart farming ada pemupukan baik pupuk kimia maupun pupuk organik, pengaturan penggunaan air secara efisien, mengetahui kondisi cuaca, kondisi tanah dan waktu panen. Penggunaan smart farming dapat menghemat biaya pupuk kimia sampai 50%. Jadi dengan smart farming penggunaan pupuk dapat ditekan,” ujarnya.

“Selain itu setelah pelatihan ini petani yang nantinya akan dilatih harus dapat mengakses Kredit Usaha Rakyat,” tambahnya.

Materi pelatihan mencakup Kelompok Dasar yaitu Kebijakan Pengembangan Pertanian Berbasis Smart Farming. Untuk kelompok Inti yaitu Pengembangan Pertanian Berbasis Smart Farming, Pengenalan Pemograman Mikrokontroler Berbasis Internet of Things (IoT), Perakitan Modul Kontrol untuk Smart Farming, Implementasi Smart Farming di Tanaman Pangan dan Perkebunan, Implementasi Smart Farming di Peternakan (Ruminansia), Implementasi Smart Farming di Peternakan (Unggas), Implementasi Smart Farming di Hortikultura, dan Kredit Usaha Rakyat.

Baca Juga :   SMKPP Kementan Raih Penghargaan dari Industri dan Dunia Kerja

Narasumber/fasilitator yang dilibatkan pun tak tanggung-tanggung mulai dari IPB, BLK, HIMBARA, para praktisi seperti P4S Petani Muda Keren, Habibi Garden, Dairy Farm,Pasini Naratas Farm serta widyaiswara yang sudah sangat mumpuni di bidangnya.

Salah seorang peserta TOT yang merupakan Guru SMKPP N Sembawa, Estri Rahajeng dan Ujang Muhammad mengatakan, ToT bagi tenaga fungsional khusus seperti guru, dosen, widyaiswara dan penyuluh ini sangat penting.

“Karena pentingnya informasi dan wawasan bagi mereka tentang smart farming dan digitalisasi pertanian,” terang Ujang.

“Bagi guru ini sangat penting agar informasi seperti ini dapat ditransfer ke siswa sebagai peserta didik, yang kemudian hari mereka akan menjadi pelaku agribisnis ataupun pebisnis dibidang pertanian,” Ujang menambahkan. SMKPP Negeri Sembawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *