Sumenep Kembangkan Padi VUB Inpari 42

Pembangunan di sektor pertanian menjadi salah satu tujuan utama pemerintah untuk membangun Indonesia sebagai negara besar yang menempatkan sektor pertanian untuk memperkuat ekonomi dan ketahanan nasional melalui kedaulatan pangan. Hal ini dimaknai sebagai pemenuhan kebutuhan pangan melalui produksi lokal yang di dalamnya menyangkut pemenuhan hak atas pangan berkualitas, bergizi baik dan seimbang, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan serta ramah lingkungan.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian di masa yang akan datang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang serba maju, serba baru dan lebih modern.
“Minimal dengan terjadinya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian,” terang SYL.

Salah satu implementasinya yaitu dengan penanaman varietas unggul baru (VUB) Inpari 42 Agritan Green Super Rice (GSR) di Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Dimana pertama kali varietas ini dikenalkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur pada tahun 2018 bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep melalui kegiatan kaji terap. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga kecamatan yaitu Gapura, Lenteng dan Guluk-guluk pada musim tanam kedua bulan Maret – Juli 2018 dengan sistem tanam jajar legowo 2 : 1.

Kegiatan kaji terap di Kecamatan Gapura, berlokasi di Desa Gapura Tengah seluas 5 ha, dilaksanakan sebagai sarana untuk pengenalan VUB Inpari 42 Agritan GSR dan pembelajaran petani dalam penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada tanaman padi. Beberapa inovasi yang telah dilakukan dalam kegiatan budidaya yaitu : seleksi benih menggunakan larutan garam, aplikasi Plant Promoting Growth Rizhobacteria (PGPR) atau bakteri Pseudomonas fluorescens (Pf), penggunaan bibit tanaman muda antara 15-20 hari, pengendalian hama penggerek batang secara mekanis melalui pemungutan telur penggerek di persemaian, istem tanam jajar legowo (40 cm x 20 cm x 12.5 cm) dan pemupukan yang berimbang.

Baca Juga :   Kepala BPN Lantik 3 Pejabat Eselon I dan 13 Eselon II

Seiring berjalannya waktu dari tahun 2018 hingga sekarang, VUB Inpari 42 Agritan GSR mendapatkan tempat dihati petani Kecamatan Gapura. Hal ini bisa dibuktikan dari perkembangan luas tanam Inpari 42 serta produktivitasnya yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2018 dengan luasan yang hanya 5 ha, provitas mencapai 8,74 ton/ha, tahun 2019 dengan luasan 47,2 ha, provitas 8,74 ton/ha dan tahun 2020 MH I : dengan luasan 230,8 ha, provitas 9,4 ton/ha; MH II : dengan luasan 120 ha, provitas 8,85 ton/ha yang  apabila dibandingkan dengan varietas lainnya sangat berbeda signifikan dengan provitas sekitar 5 – 6 ton/ha. Berdasar perkembangan luas tanam yang meningkat serta permintaan kebutuhan benih Inpari 42 yang begitu tinggi, maka pada tahun 2020 Kelonpok Tani (Poktan) Budi Setia, Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura berinisiatif membentuk Kelompok Penangkar Benih Padi untuk memenuhi kebutuhan benih Inpari 42. Sehingga pada musim tanam 2020/2021 mereka mampu  memproduksi benih sebanyak 2 ton dengan label biru.

Achmad Syarif Nur Fajrullah, Penyuluh Pertanian di Kecamatan Gapura mengatakan, meskipun kelompok ini tidak bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan benih Inpari 42 yang ada, tetapi ini merupakan langkah awal yang sangat positif dalam menciptakan perubahan paradigma petani di  Kecamatan Gapura.  “Petani sebagai pelaku utama telah merasakan adanya  peningkatan produktivitas melalui penggunaan VUB Inpari 42 dengan menerapkan teknologi yang telah  disampaikan pada kegiatan kaji terap. Selain itu, dengan adanya kelompok penangkar benih padi di Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura dapat menginisiasi terbentuknya Desa Mandiri Benih khususnya Inpari 42 yang dirancang sebagai salah satu kegiatan berbasis padat karya dengan memberdayakan petani melalui kelompok tani atau kelompok penangkar atau gabungan kelompok tani dengan kelompok penangkar,”kata Achmad Syarif.

Baca Juga :   Sinergi Kementan dan DPR RI Ajak Wanita Tani Maksimalkan P2L

“Dimana diharapkan selain dapat memberikan nilai manfaat juga mampu meningkatkan sektor ekonomi di tingkat desa. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan pada penggunaan benih, teknologi, dan cara-cara bertani baru dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani untuk menopang kebutuhan pangan, ekspor, dan industri pertanian yang terus bergerak maju, mandiri, dan modern,” imbuh Syarif.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa pertanian menjadi salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.
“Walau masih pandemi Covid-19, pertanian jangan berhenti, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan,” tegas Dedi.  Achmad Syarif NF/ Yeni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *