KEDIRI – Usaha budidaya jamur tiram milik Setiyono Nurfaan dan istrinya, Asiyah, di Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota, Kota Kediri, menjadi salah satu contoh sukses pengembangan usaha pertanian berkelanjutan berbasis rumah tangga. Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, usaha yang bermula dari hanya 50 baglog kini berkembang menjadi unit produksi profesional dengan kapasitas 50–60 ribu baglog.
Budidaya jamur tiram ini dimulai dari ketertarikan pasangan tersebut pada teknologi budidaya jamur. Meski awalnya bersifat percobaan, ketekunan, inovasi, serta manajemen usaha yang terus diperbaiki membuat usaha ini tumbuh pesat. Tidak hanya dikelola oleh keluarga, usaha ini kini juga melibatkan beberapa tenaga kerja lokal seiring meningkatnya skala produksi.
Operasional budidaya dilakukan di rumah dan lahan milik Setiyono Nurfaan yang telah disulap menjadi kumbung-kumbung jamur tertata rapi. Setiap kumbung dilengkapi sistem ventilasi dan kontrol kelembaban yang memastikan lingkungan tumbuh jamur tetap optimal dan stabil.
Pada, Kamis (11/12), ia menuturkan bahwa pilihan mengembangkan jamur tiram didasarkan pada permintaan pasar yang luas dan terus meningkat, nilai gizi jamur yang tinggi, serta proses produksi yang tidak membutuhkan lahan besar.
“Selain untuk meningkatkan ekonomi keluarga, kami ingin membuka peluang kerja bagi warga sekitar,” ujarnya.
Perkembangan usaha ini berlangsung melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari menambah kapasitas produksi secara bertahap, membangun kumbung yang lebih besar, meningkatkan kualitas lingkungan tumbuh, menjaga mutu hasil panen, hingga memperluas jaringan pemasaran. Saat ini, pemasaran jamur segar menjangkau Kediri dan Nganjuk, sementara produk lain seperti baglog, bibit, cincin dan plastik pemasaran di Kediri, Blitar, Tulungagung, Malang, dan Jombang.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan komitmen Kementan dalam mendukung tumbuhnya wirausahawan pertanian.
“Kita dukung penumbuhan wirausaha di bidang pertanian. Jika perlu, kita bangun dan tingkatkan kembali inkubasi agribisnis agar bisa menampung wirausahawan potensial,” ujar Mentan Amran.
Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa sektor pertanian masih menyimpan potensi besar.
“Pengembangan agribisnis berbasis klaster komoditas masih sangat memungkinkan untuk terus digeluti dan dikembangkan,” ujarnya.
Setelah sepuluh tahun berjalan, usaha jamur tiram ini bukan hanya menjadi sumber ekonomi utama keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar tentang bagaimana usaha rumahan dapat berkembang menjadi bisnis pertanian yang profesional dan berdaya saing. Rika Margi/BBPP KETINDAN







