Training Course on Principals and Application of Integrated Pest and Diseases Management Kerjasama Kementan dengan NAM CSSTC

Orang-orang di dunia selalu membutuhkan makanan yang hanya dapat menghasilkan dari pertanian. Namun, terdapat kendala dalam budidaya tanaman, salah satunya adalah kendala hama dan penyakit tanaman. Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated Pest Management (IPM) dikembangkan seiring dengan banyaknya kasus kegagalan pengendalian hama dengan pestisida sintetik karena terjadinya resistensi dan resurgensi hama terhadap pestisida serta timbulnya hama sekunder.

Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan dan konsumen juga menjadi factor yang menintukan dalam proses pengembangan PHT di Indonesia. Menurut FAO 1974 : PHT adalah Sistem Pengendalian Hama dan Penyakit yang mengkombinasikan satu atau lebih cara yang kompatibel untuk menekan populasi atau tingkat kerusakan OPT di bawah tingkat yang merugikan secara ekonomis dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, untuk penerapan PHT diperlukan komponen teknologi, sistem pemantauan yang tepat, dan petugas atau petani yang terampil dalam penerapan komponen teknologi PHT.

Penerapan pengelolaan hama dan penyakit terpadu yang telah dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia dapat diadopsi oleh Negara-Negara Oseania yang memiliki komoditas pertanian yang sama. Penting untuk membawa isu-isu itu sebagai program pelatihan, untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik bagi pejabat pemerintah, penyuluh pertanian, dan pemangku kepentingan UKM untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) cq Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) bekerjasama dengan Non-Aligned Movement Center for South-South Technical Cooperation (NAM CSSTC) menyelenggarakan Training Course on Principals and Application of Integrated Pest and Diseases Management In The Topics. Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan ditunjuk oleh Puslatan untuk menyelanggarakan pelatihan yang diikuti oleh 20 orang dari negara-negara Oceania.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada 29-30 April 2021 dengan metode daring melalui aplikasi zoom meeting, yang sebelumnya melakukan pendaftaran dan pre test melalui Learning Manajemen System (LMS). Pelatihan IPM ini sangat menarik bagi peserta Negara-Negara, dimana kurikulum pelatihan ini dirancang agar para  peserta dapat belajar dan aplikasi  Pengelolaan  Hama dan Penyakit Terpadu di Daerah Tropis. Sedangkan materi pembelajarannya ialah manajemen hama terpadu berbasis ekologi, Teknik pengendalian manajemen hama terintegrasi, manajemen penyakit tanaman hortikultura dan manajemen perlindungan tanaman.

Baca Juga :   Kementan Respon Cepat Tangani Dampak Banjir di Demak

Kepala BBPP Ketindan, Sumardi Noor, dalam sambutannya mengatakan sangat berterima kasih atas semangat dari semua peserta. Ia berharap kelak peserta bisa hadir secara langsung untuk mengikuti pelatihan secara offline di BBPP Ketindan dan mengenal lebih dekat Negara Indonesia. “Pada akhir pelatihan, evaluasi dilakukan menggunakan format yang disediakan oleh NAM Center.  Setelah satu tahun sejak selesainya pelatihan, peserta akan dikonfirmasi tentang progres  rencana  aksi,” ujar Niken Supraba dari NAM Center. YENI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *