Kementan dan Komisi IV DPR RI Tingkatkan Kapasitas Petani dan Penyuluh Sumsel Melalui Penerapan Teknologi RAISA

PALEMBANG-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui BPPSDMP terus berusaha meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian. Bersama dengan Komisi IV DPR RI, Kementan melalui UPT Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) SMK-PP Negeri Sembawa menggelar Bimbingan Teknis (bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang berjumlah 50 peserta dengan tema “Peningkatan IP Padi di Lahan Rawa Lebak” bertempat di Wyndham OPI Hotel Palembang (05/03).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan menyampaikan penyuluh yang andal akan meningkatkan produktivitas pertanian, penyuluh berperan penting mendampingi petani dalam mengolah budidaya pertanian mereka,” kata Menteri Pertanian (Mentan)

Senada dengan Mentan, Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi yang juga hadir menegaskan bahwa kunci keberhasilan pembangunan pertanian adalah peningkatan produktivitas.
“Peningkatan produktivitas ada di tangan petani dan penyuluh. Karena itu kami siap untuk genjot produktivitas dengan, mensupport program-program pertanian,” pungkasnya.

Anggota Komisi IV DPR RI, Sri Kustina menyampaikan pertanian mempunyai peranan penting dan berfungsi sebagai penyedia pangan, pakan untuk ternak, dan bioenergi. Selain itu peran pertanian sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional, untuk mewujudkan ketahanan pangan, peningkatan daya saing, penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan dengan mendorong pertumbuhan agro-industri di hilir dan memacu ekspor komoditas pertanian untuk meningkatkan devisa negara.

“Penyediaan pangan masyarakat sebagai wujud ketahanan pangan dalam negeri yang tertuang dalam undang- undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005- 2025 ,dan peraturan presiden nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, oleh karenanya sektor pertanian dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di indonesia” ujarnya.
“Pembangunan pertanian yang menjadi bagian dari RPJMN tahun 2020-2024 merupakan tahapan ke-4 dan kelanjutan dari RPJPN 2005-2025. pada RPJMN keempat (2020-2024) ini, masyarakat Indonesia diharapkan sudah mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang termasuk di sektor pertanian” tambahnya.

Baca Juga :   Cegah Cluster Baru, SMKPP Negeri Sembawa Gelar Test Rapid Antigen

“Pada saat rapat kerja dengan komisi 4 DPR RI, Kementan menargetkan produksi padi sebagai salah satu komoditi utama ditahun 2022 ini sebesar 55,20 juta ton. pada kesempatan ini saya meminta kepada kita semua yang hadir hari ini agar dapat mendukung/membantu pemeritah dalam mencapai target produksi padi tersebut.” himbaunya.

“Pengelolaan lahan rawa yang baik harus sesuai dengan karakteristik lahan rawa. pengelolaan air yang tepat menjadi salah satu kunci keberhasilan sehingga nantinya dapat mendukung peningkatan produktivitas, dan indeks pertanaman (IP) dimasa depan. Saat ini pemerintah terus melakukan upaya untuk mengamankan stok beras nasional. salah satunya dengan optimalisasi lahan yang tidak produktif, seperti lahan rawah.” tegasnya.

Sri pun menambahkan pengelolaan lahan rawa ini perlu penanganan khusus, harus dikelola dengan bijak agar dapat diperoleh manfaat sesuai yang kita harapkan, oleh karenanya kita harus menyiapkan semua teknologi yang dibutuhkan , mulai penataan lahan, pengelolaan air, pengolahan tanah, pupuk hayati hingga drone untuk menebar benih, teknologi yang disiapkan tentu saja harus dengan memperhatikan kearifan lokal dari masyarakat setempat.

“Kegiatan bimtek yang kita selenggarakan saat ini tentu bermaksud untuk memberikan pengetahuan/pembelajaran tentang pengelolaan lahan rawa, kondisi hidrologi dan karakteristik tanah di daerah rawa membutuhkan pengelolaan air yang tepat disesuaikan dengan potensi masalah air di hamparan sawah yang dikelola. kunci keberhasilan dalam mengelola fisik rawa adalah pengelolaan air yang benar, sebab air selalu berkaitan dengan masalah kimia tanah, fisik tanah, dan komoditas yang tumbuh di atasnya” tutur Sri.

Diakhir segmen ia menekankan terkait pengelolaan air mengatur air agar sirkulasi air berjalan lancar dan terkendali, baik yang bersifat irigasi (pasokan air ke sawah) maupun drainase (membuang air). sehingga, sumber air berkualitas baik sesuai yang dibutuhkan tanaman dapat dimasukkan ke persawahan, sementara air asam dapat dikeluarkan dari persawahan. Prinsip dasarnya bagaimana mengatur agar air yang baik bisa masuk ke kawasan persawahan dan air yang bermasalah seperti air asam maupun air asin bisa dikeluarkan serta mengatur tinggi muka air sesuai komoditas tanaman.

Baca Juga :   Pantau Stok dan Harga Pangan di Sumsel, Kementan Kunjungi Pasar KM 5 Palembang

Tampak antusias peserta yang terdiri dari 10 penyuluh dan 40 Petani dari Kabupaten PALI ini mendapatkan materi dari praktisi yang hadir antara lain Momon Sidik Imanudin dari Universitas Sriwiyaha yang dalam paparannya menyampaikan kunci keberhasilan Budidaya Padi di Lahan Rawa Lebak antara lain penataan lahan (pembuatan petakan, dan tata air mikro), mikro kanalisasi (untuk percepatan pencucian lahan, dan distribusi air), pintu air dan sumur bor dibeberapa area, tanggul, mini folder dan pompanisasi.

Praktisi lainnya adalah Ahyaudin bersama fasilitator dari BPTP Sumsel Budi Raharjo yang telah menerapkan Teknologi Budidaya Padi RAISA Mendukung Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di Lahan Rawa sehingga produktivitas meningkat.

Konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi di Lahan Rawa (Pasang Surut dan Lebak) adalah dengan partisipatif yakni adanya peran dan kontribusi petani dalam menetapkan pilihan teknologi. Spesifik Lokasi, sesuai dengan tipologi dan tipe luapan lahan rawa. Terpadu, keterpaduan antara komponen teknologi yang diterapkan. Input Rendah, rasionalisasi penggunaan pupuk dan benih, efisiensi waktu dan biaya dengan mekanisasi. Dinamis,selalu diupdate sesuai kondisi serta berkelanjutan (ramah lingkungan).

RAWA INTENSIF, SUPER, DAN AKTUAL (RAISA) Pembaruan paket komponen teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi rawa menggunakan hasil inovasi Balitbangtan terkini untuk meningkatkan produksi padi di lahan rawa.

KOMPONEN TEKNOLOGI RAISA : 1. Varietas Unggul Baru (Inpara 2 dan 8) 2. Ameliorasi (dolomit ATAU kapur pertanian atau arang sekam) 3. Aplikasi Pupuk Hayati (BIOTARA dan AGRIMETH) 4. Cara tanam (tanam pindah dan tanam benih langsung) 5. Pengelolaan Air Mikro 6. Pemupukan berimbang sesuai rekomendasi (dosis berdasarkan Perangkat Uji Tanah Rawa, BWD maupun DSS dan Apilkasi LKP) 7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Terpadu + ecology engineering (tanaman perangkap menggunakan refugia) 8. Panen (combine harvester) pengeringan gabah dengan box dryer bahan bakar.

Baca Juga :   Pemerintah Siapkan Langkah Strategis Pasar CPO Indonesia

Tidak lupa Ahyaudin berpesan untuk meningkatkan produktivitas, kelompok tani harus kompak dan tulus dalam usaha pertaniannya.

Memberi support penuh pada kegiatan bimtek ini Kepala SMKPP Negeri Sembawa Mattobi’i dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Ahmad Jhoni yang berkomitmen mengawal pembangunan pertanian. SMKPP Negeri Sembawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *