Jelang Idul Adha, Kementan Ajak Milenial Cegah dan Kendalikan Penyakit Mulut Kuku

BANYUASIN- Adanya wabah Penyakit Mulut Kuku (PMK) pada hewan ternak tak menyurutkan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memenuhi kebutuhan hewan ternak di Indonesia.

Berbagai langkah pun dilakukan untuk mengatasi wabah ini, mulai dari tindakan preventif hingga menerapkan strategi yakni intelektual sebagai langkah percepatan, strategi manajemen untuk langkah penguatan dan strategi perilaku yang merupakan sebagai langkah bersama dalam menghilangkan PMK pada hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing dan babi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjalankan tiga skema dengan upaya darurat melalui pemetaan wilayah terkonfirmasi PMK yang ditandai warna merah. Wilayah suspek PMK dengan warna kuning, dan wilayah bebas PMK warnanya hijau. Didukung keluarnya Keputusan Menteri Pertanian RI [Kementan] terkait antisipasi penyebaran PMK.

“Jika tidak ditangani dengan baik, kejadian PMK akan berikan dampak ekonomi akibat turunnya produktivitas dan harga jual murah. PMK juga akan berdampak pada perdagangan internasional, baik ternak hidup maupun produk ternak karena adanya larangan ekspor,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi menyampaikan tentang persoalan PMK saat ini sebagai tantangan yang harus dihadapi selain dari krisis pangan pada kegiatan Millennial Agriculture Forum (MAF) yang diselenggarkan SMKPPN Sembawa secara virtual zoom meeting (04/06). MAF Vol 3 Edisi 22 kali ini mengusung tema Strategi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Mulut Kaki yang diikuti oleh 724 partisipan.

Dedi Nursyamsi mengatakan, kondisi negara kita tidak biasa-biasa saja terutama pangan, kondisi pangan Indonesia, dipengaruhi pangan global, yang sedang mengalami terbulensi karena covid dan Climate change. Hal ini mengakibatkan sistem produksi, distribusi dan produktivitas mengalami gangguan luar biasa. Ditambah lagi dengan wabah PMK yang disebarkan virus lewat udara yang saat mengganggu peternak kita menjelang Idul adha ini.

Baca Juga :   Pantau Stok dan Harga Pangan di Sumsel, Kementan Kunjungi Pasar KM 5 Palembang

Dedi mengajak peserta webinar untuk bersama memperhatikan pengendalian PMK, “lakukan isolasi mandiri, untuk hewan yang sudah terpapar, Kementan telah mendistribusi obat untuk wilayah PMK, obat-obat yang dikeluarkan oleh verteriner Farma di Surabaya terbukti telah berhasil dalam mengatasi PMK, selain itu imunitas hewan ternak harus ditingkatkan, bisa menggunakan herbal seperti kunyit, pastikan karantina secara disiplin melalui perketat lalu lintas hewan ternak, jangan ada pergerakan hewan dari tempat yang terpapar, disaat menjelang idul adha hiruk pikuk lalu lintas hewan kurban yang tinggi harus diawasi, selain itu vaksinasi baik yang sudah terpapar atau pun tidak terpapar.” Ajak Dedi.

Hadir Pejabat Otoritas Veteriner (POV) PMK, yang juga Kepala Rumah Sakit Hewan Sumatera Selatan Silvestra Sri Wigatiningsih selaku narasumber yang menyampaikan langkah pencegahan dan antisipasi pada kasus PMK. Lalu lintas ternak tingkat kecamatan rekomendasi ternak dibuat oleh Dinas yang membidangi Kesehatan Hewan di Kabupaten/Kota, Lalu lintas ternak tingkat Kabupaten/Kota rekomendasi keluar masuk ternak dibuat oleh Dinas yang membidangi Kesehatan Hewan di tingkat Provinsi, berdasarkan analisis resiko dari dokter hewan berwenang dari Kabupaten/Kota yang dituju disertai (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) SKKH/ SKDH dari dokter hewan daerah asal setelah dilakukan karantina/observasi selama 14 hari di daerah asal dan tidak menunjukkan gejala PMK.

“Untuk Pasar Hewan yang masih beroperasi agar menempatkan Dokter Hewan berwenang untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan ternak, ternak yang dijual di Pasar Hewan harus dilengkapi dengan SKKH dari Dokter Hewan berwenang daerah asal ternak dan apabila tidak dilengkapi dengan SKKH petugas berhak untuk menolak (Tahap awal sosialisasi akan diberikan dispensasi). Desinfeksi di pasar hewan dilakukan pada setiap ternak, kendaraan, dan sarana prasarana lainnya yang beresiko membawa agen penyakit”, kata Wiga.

Baca Juga :   Keren! Petani Milenial asal Kota Prabumulih, Ekspor Serat Daun Nanas ke Singapura

“Persyaratan lalu lintas ternak daerah adalah SKKH, Kandang holding ground : teregistrasi, biosecurity, dokter hewan), kendaraan pengangkut (desinfeksi) sedangkan untuk daerah lalu lintas dengan memperhatikan pada check point (dokter hewan, stempel legalitas perjalan lintas daerah), dan untuk daerah tujuan harus memperhatikan kandang holding ground dan kendaraan pengangkut. Holine PMK Provinsi Sumatera Selatan 0813-5930-6226″ tambahnya.

Narasumber kedua Medik Verteriner Madya BPTU-HPT Sembawa Suhesti Hartati menyatakan bahwa prinsip dasar pengendalian PMK antara lain mencegah kontak antara hewan peka dan virus PMK, menghentikan produksi virus PMK oleh hewan tertular, meningkatkan resistensi/ kekebalan hewan peka.

“Implementasinya antara lain menghentikan penyebaran infeksi melalui Tindakan karantina dan pengawasan lalu lintas, menghentikan sumber infeksi dengan pemusnahan hewan tertular dan yang terpapar (stamping out), menghentikan produksi virus dengan dekontaminasi kandang, peralatan, kendaraan, dan lainnya, atau disposal bahan terkontaminasi, Membentuk kekebalan pada hewan peka dengan vaksinasi, mencegah Kontak hewan Peka dengan sumber penyakit.” Papar Hesti.

Lebih lanjut Hesti menjabarkan tentang proses Disinfektan “Menghentikan produksi virus PMK dengan cara dekontaminasi : pencucian dan desinfeksi peralatan serta Disposal : penguburan material tercemar.
Disinfektan yang Peka terhadap : Sodium hydroxide (2%), Sodium carbonate (4%), citric acid (0,2%), acetic acid (2%), sodium hypochloride (3%), potassium peroxymonosulphate/ sodium chloride (1%), chlorine dioxide. Sedangakn Resistensi terhadap desinfektan : iodophore, quartenery ammonium compounds, dan phenol.” Ujar Hesti

Kiat dan Tips Beternak Tercegah dari PMK
Narasumber ketiga Penyuluh Pertanian dari BPP Kabupaten Banyuasin yang konsen terhadap dunia peternakan adalah Yanto Adi Wiyansyah yang menekankan pentingnya SOP (Standard Operating Procedure) Pembersihan kandang untuk mencegah PMK.
Kegiatan webinar yang banyak dilakukan diskusi antara narasumber dan peserta, peserta terdiri dari peternak, Penyuluh Pertanian, Mahasiswa, Siswa, dan masyarakat umum mengingat sebentar lagi akan datangnya hari raya Idul Adha dimana tentunya lalu litas hewan kurban sangat tinggi.

Baca Juga :   Gelar Pangan Murah Kementan di Palembang, Warga Sumsel Borong 12 Bahan Pokok

Hadir menambah semangat peserta webinar, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementan [Pusdiktan] Idha Widi Arsanti yang mengajak generasi muda khususnya petani milenial untuk bersama mengatasi wabah ini. “Pencegahan dan pengendalian PMK strategi harus terus dilakukan, harus bersama-sama kepedulian dari semua pihak dari berbagai kalangan. Bahwa daging dari sapi ataupun kambing adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi masyarakat. Dengan adanya PMK menjadi sedikit tantangan bagi peternak untuk kebutuhan ini tetap tercukupi. Hal yang dapat dilakukan antara lain lalu lintas hewan ternak harus dilakukan secara ketat dan vaksinasi”, ungkapnya.

Idha pun berpesan bahwa penyakit ini menyebar secara cepat, dengan sejarah PMK dari lalu lintas dari luar negara, wabah PMK ini tentunya menyebabkan kerugian ekonomi, dengan Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor daging ke Timur Tengah.

“Dalam 2 minggu ini telah dilakukan rapat DPR dan Kementan untuk menemukan jenis virus untuk dibuatkan vaksinnya, import vaksin PMK, pemberian obat-obatan dan vitamin bagi hewan yang terpapar maupun belum, serta membentuk gugusu tugas provinsi dan kabupaten untuk pengendalian PMK”,tutup Idha. SMKPP Negeri Sembawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *