Kementan Ajak Petani Milenial Terapkan Zero Waste Peternakan

BANYUASIN – Salah satu upaya peningkatan produksi dan produktivitas pada hewan ternak yaitu penyedia pangan hewani yang aman, sehat, utuh dan halal. Peternak sebagai pelaku utama, tentunya memiliki peranan yang sangat penting demi tercapainya pembangunan peternakan.

Untuk mendukung hal tersebut, SMKPPN Sembawa salah satu UPT Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menyelenggarakan Millenial Agriculture Forum (MAF) vol 3 edisi 30 dengan tema Intensifikasi Ternak dengan Kesehatan Hewan dan Zero Waste (13/10) yang diikuti kurang lebih 600 partisipan.

Kepala SMKPPN Sembawa dalam sambutannya menyampaikan Strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, berupa akibat aktifitas pertanian/ peternakan berupa dengan “Pertanian Terpadu” merupakan salah solusi yang mungkin dapat dilakukan.

“Penerapan konsep zero waste ini tentunya dapat meningkatkan kualitas baik hasil produk yang optimal, hasil pangan mandiri yang lebih berkualitas serta dapat dijadikan solusi untuk menuju pertanian ramah lingkungan dan tentunya berkelanjutan baik secara ekonomi maupun ekologi” tambah Yudi.

Bahkan dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengingatkan bahwa kesehatan hewan memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan produksi dan produktivitas ternak melalui penanganan PMK terus dilakukan secara maksimal. Diantaranya dengan mendistribusikan obat, penyuntikan vitamin, pemberian antibiotik dan penguatan imun. Disisi lain, Kementan juga terus bekerja melakukan riset dan uji lab untuk menemukan vaksin dalam negeri.

Selain itu, Mentan meminta pemerintah daerah untuk membangun integrated farming yang mengintegrasikan beberapa usaha tanaman. Diantaranya, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan yang dikelola secara terpadu. Kementerian Pertanian tidak bisa sendirian dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional saat kondisi pemanasan global.

Karena itu Mentan SYL berharap semua pihak baik dari kementerian, lembaga lain, pemerintah daerah, universitas, perbankan bersama-sama mempersiapkan ketahanan pangan nasional.

Baca Juga :   Ditjenbun Harapkan SSII Tingkatkan Ekspor Rempah

Dalam pembukaan MAF ini Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi memberikan arahan, “Kita sekarang dalam kondisi krisis pangan global, karena bangsa yang maju harus bisa mencukupi pangan bagi rakyatnya,” terangnya.

Krisis pangan global disebabkan oleh dampak covid-19, imabas perang rusia dan ukraina yang belum usai. Aktiviats PMK semakin merajalela. Cara menghadapi krisis pangan yakni dengan genjot komoditas pangan (pangan nabati dan pangan hewani), diversifikasi pangan local (ganti pangan import dengan pangan lokal.
Pangan lokal akan mengamankan dari krisis pangan global, genjot produksi, genjot pengolahan, genjot konsumsi, genjot marketing pangan lokal.

Lebih lanjut, Berbicara tentang ternak yang paling utama yakni pakan, benih yang bagus juga dapat meningkatkan produksi dan produktivitasnya. Kesehatan hwan ternak merupakan peran penting dalam ternak kita sehingga dapat menghasilkan produksi yang tinggi. pangan hewani tidak hanya dari sapi melainkan bisa dari kambing dan domba.”ujarnya

Hadir sebagai narasumber, Dosen Kesehatan Hewan, Eko Sugeng Pribadi yang menyampaikan kesehatan ternak untuk peningkatan hasil.

Menurutnya, factor kunci keberhasilan dalam peternakan yang pertama yakni kenyamanan induk. Kesehatan induk dengan cara selalu menjaga kesehatannya agar induk tetap selalu sehat merupakan adalah salah satu kunci keberhasilan seorang peternak.

Kenyamanan induk ini terdiri dari calving interval (menjaga bagaimana induk yang dipelihara disiplin melahirkan), terhindar dari penyakit, kesehatan ambing serta kebersihan kandang.
Dia menambahkan bahwa virus yang lagi menjadi tren saat ini yakni Penyakit Mulut dan Kuku, Ternak yang terserang PMK memiliki gejala diantaranya banyak mengeluarkan ludah, mengecup bibir, suhu tubuh tinggi, gemetaran. Kaki bengkak serta susu yang dihasilkan berkurang, luka dan lecet (teracak dan rongga mulut, luka dan lecet, serta kurus.

Baca Juga :   Kementan Percepat Implementasi Permentan No.38/2020 Tentang Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan

Lebih lanjut Eko menjabarkan Faktor keberhasilan selanjutnya yaitu gizi pakan, cekaman panas dan pengelolaan peternakan. Secara umum kita bisa merawat ternak kita yang sakit dengan memberikan antibiotika, antiradang, penurun panas, vitamin, pakan halus, dan vaksinasi.
“Pengelolaan peternakan dan Hasil Ternak (pasca panen) yakni ranch atau peternakan rakyat, letak rumah potong hewan, tata niaga yang memberikan nilai tambah, rantai dingin serta edukasi konsumen mengenai daging segar.” ujarnya.

Pengelolaan Limbah Kandang meningkatkan pendapatan Peternak disampaikan oleh Dosen Peternakan, Universitas Sriwijaya, Arfan abrar, mengatakan mengapa limbah kandang harus di kelola karena agar memiliki nilai guna dalam pembuatan atau pemakaiannya. Dapat kita ketahui bahwa setiap hari budidaya ternak itu menghasilkan limbah baik berupa feses maupun urin. dari sisi jumlah feses basah 8-10 kg/hari dan urin 10 kg/ekor/hari. Sehingga harus dilakukan upaya pengelolaan limbahnya.

Menurutnya dampak dari Limbah kandang tidak dikelola dengan baik maka akan memberikan resiko tinggi pada gangguan kesehatan lingkungan yang bisa mengakibatkan media penyebaran penyakit.

Dia menambahkan bahwa mindset dalam pengelolaan kandang yang pertama yakni mengubah potensi menjadi aksi, bahwa limbah ini menjadi unit penghasil pendapatan baru sehingga mendapatkan investasi.

“Sarana dan Prasarana Pengelolaan Limbah Kandang ini yang paling pertama yakni lantai, bak penampung. Beliau menambahkan limbah kandang ini dapat dilakukan pengelolaan berupa pembuatan pupuk cair dan biogas. Cara pembuatan pupuk cair organik yakni berasal dari limbah cair kandang yang difermentasi dengan EM4, dengan perbandingan limbah cair 500 liter dan EM4 encer 1 liter, kemudian diproses dengan prinsip sirkulasi untuk melepas ammonia ke udara setelah dirkulasi selama 7 hari dan difermentasi maka pupuk cair organik siap digunakan.

Baca Juga :   Keren! Petani Milenial asal Kota Prabumulih, Ekspor Serat Daun Nanas ke Singapura

Lebih lanjut arfan menambahkan manfaat dari pupuk cair organik ini adalah bisa digunakan untuk memperbaiki struktur tanah sehingga lebih remah. Adapun ciri-ciri pupuk cair siap digunakan yakni encer, cairam tidak terasa lengket dan hampir tidak bau.

Narasumber ketiga yakni Muhammad awal gunadi tentang pemanfaatan dan pengelolaan limbah yaknik pupuk kompos dan pupuk cair. Komposisi pada pupuk padat/ kompos Komposisi : PH H20 7,02, N 1,22, P 1,05, K4,00. Adapun ahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan pupuk padat yakni kotoran kerbau, jerami padi, dan dikomposer. Sedangkan untuk pupuk cair menggunakan bahan-bahan kotoran kerbau, EM4 serta disirkulasi.

Inovasi pengelolaan kotoran hewan melalui biogas dan pengelolaan bahan organik merupakan inovasi ramah lingkungan yang harus dikembangkan sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Inovasi ini telah diterapkan oleh narasumber yang ketiga yaitu Muh.Awal Gunadi yang merupakan perternak Pokmas Ulak Kuto Mandiri Desa Bangsal Kabupaten OKI Sumatera Selatan.

Sementara Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementan [Pusdiktan] Idha Widi Arsanti mengajak generasi muda khususnya petani milenial untuk bersama-sama mengatasi wabah PMK.

Cara mencegah PMK dapat dilakukan dengan cara Biosekurity barang, Biosekurity kandang, biosecurity karyawan, biosecurity tamu, biosecurity ternak.”ujarnya

Konsep zero waste yakni feses, sisa pakan, cair menjadi pupuk organic yang berguna untuk pemanfaatan tanaman. SMKPP Negeri Sembawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *