oleh

Kesiapan Sektor Perkebunan dalam Menghadapi Krisis Global

JAKARTA – Akibat climate change, covid 19 dan perang Rusia-Ukraina, berdampak pada perekonomian nasional dan produksi pertanian. Dampak krisis pangan juga disebabkan terjadinya gagal panen, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), produksi menurun, serta terjadinya lonjakan harga.

Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada Juli 2022 sebesar 104,25. Angka ini turun sebesar 1,61% dibanding NTP pada bulan sebelumnya yakni sebesar 105,96 pada Juni 2022. Penurunan NTP Nasional Juli 2022 disebakan Indeks Harga yang diterima Petani (lt) turun sebesar 2,37%, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) mengalami kenaikan sebesar 0,46%. Penurunan NTP Juli 2022 juga dipengaruhi oleh turunnya dua subsektor yakni NTP subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,62% dan NTP subsektor Perkebunan Rakyat sebesar 6,63%. Kendati mengalami penurunan, NTPR tetap menjadi yang tertinggi diantara semua sub sektor pertanian lainnya.

Kepemilikan lahan yang kurang dari 0,5 hektar, sistem perkebunan yang masih tradisional, usia tanaman yang 30 persen sudah tua dan tidak produktif, produksi yang kurang optimal, ketersediaan dan keterjangkauan benih, kurangnya kelembagaan pekebun, kualitas produksi masih dibawah standar, merupakan kondisi perkebunan saat ini. Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah dalam Forum Group Discussion (FGD) bersama Komisi IV DPR RI di Hotel Mulia, Jakarta. (21/9)

Untuk menuju perkebunan yang ideal, Andi mengungkapkan beberapa strategi yang akan dilakukan. Dalam jangka pendek melalui peningkatan produktivitas yaitu intensifikasi, bantuan pupuk dan saprodi lainnya. Sedangkan jangka panjang yaitu melalui menyediaan benih varietas unggul dan peremajaan melalui pengembangan nursery.

“Selain itu melalui peningkatan kapasitas produksi dan peningkatan nilai tambah dan daya saing yaitu melalui pengembangan ekosistem perkebunan dan informasi pasar, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), serta penyediaan alat pasca panen dan pengolahan,” ternagnya.

Baca Juga :   Kementan Gelar Bimtek Wirausaha Pertanian Orientasi Ekspor di Sumsel

Andi menambahkan, bahwa upaya pemerintah dalam pengembangan perkebunan nasional saat ini yaitu melalui logistik benih dan pengembangan kawasan melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi untuk meningkatkan produksi. Untuk komoditas jangka panjang yaitu pada komoditas kelapa, jambu mete, kakao, karet, lada, cengkeh, teh, vanili, dan kayu manis

Upaya lainnya yaitu melalui pengembangan kawasan melalui Intensifikasi dalam program jangka pendek untuk meningkatkan produksi kopi, kakao, karet, lada, pala dan cengkeh. Selain itu, peningkatan nilai tambah dan daya saing melalui penyediaan alat pasca panen dan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah komoditi kopi, karet, kelapa, kakao, pinang, kayu manis, dan nilam serta skema pembiayaan APBN/APBD, pemanfaatan KUR dan CSR serta investasi.

“Dalam upaya produksi benih/nursery untuk pengembangan kawasan perkebunan dari hulu, dimana benih diproduksi pada atau disekitar pengembangan kawasan perkebunan, penggunaan benih produktivitas tinggi, menekan biaya (efisiensi) dan resiko kerusakan benih, meningkatnya penggunaan benih unggul bermutu dan bersertifikat, perbakan sistem produksi/penyediaan benih melalui pengembangan nursery di kawasan pengembangan perkebunan, penentuan Calon Penerima Bantuan benih melalui e-Proposal, dan pengawalan dan pengawasan benih bermutu melalui (e-Sertifikasi di Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Perkebunan) sesuai Permentan 50 tahun 2015 tentang Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Perkebunan”, ujar Andi.

Dalam mencapai swasembada gula konsumsi, Kementan melakukan upaya Bongkar Ratoon , dengan pemberian bantuan berupa komponen bibit, pupuk, dan obat-obatan dan Rawat Ratoon dengan pemberian bantuan berupa komponen pupuk, dan obat-obatan. “Swasembada gula juga dilakukan melalui pengembangan gula non tebu melalui tanaman stevia. Stevia adalah tanaman baru yang mendapatkan popularitas yang sangat tinggi diantara semua jenis pemanis sebagai pengganti paling ideal untuk gula. Tanaman stevia sebagai alternatif tanaman penghasil pemanis alami memiliki keunggulan tingkat kemanisannya lebih tinggi daripada gula tebu”, ungkap Andi. Humas Ditjenbun

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed