Aplikasi Teknologi Sederhana Untuk Mengetahui ph Tanah

Banyak cara untuk mengetahui tanah itu asam atau tidak, baik secara tradisional/ sederhana ataupun menggunakan alat ukur. Dalam melakukan budidaya tanaman yang harus diketahui salah satunya adalah kondisi tanah, salah satu yang sangat penting adalah kadar keasaman tanah (pH). Ukuran pH tanah berkisar antara 0 – 14, tanah dengan pH 0 – 7 bersifat asam, sedangkan pH 7 – 14 bersifat basah. Tanah dengan pH rendah atau tinggi akan mempersulit tanaman menyerap unsur hara artinya dimana tanaman mampu menyerap optimal unsur hara pada kondisi pH netral yaitu pH 7.

Cara untuk mengetahui tanah itu asam atau tidak, bisa dilakukan secara tradisional/ sederhana ataupun menggunakan alat ukur. Salah satu penyuluh pertanian alumni pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan asal dari Kabupaten Grobogan, Harmoko, mengatakan bahwa penyebab pH tanah rendah yaitu curah hujan yang tinggi mengakibatkan tercucinya unsur hara pada tanah kemudian berimplikasi pada terbentuknya tanah asam. Selain itu adanya unsul Al (aluminium), Cu (tembaga) dan Fe (besi) yang berlebihan, unsur ir yang tergenang secara terus menerus pada lahan karena drainase yang tidak baik, dan dekomposisi bahan organik yang mengeluarkan kalsium dari dalam tanah serta penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendorong petani untuk segera mengembangkan inovasi usaha tani sebagai bekal masa depan menuju pertanian maju, mandiri dan modern.

“Seiring dengan semakin berkembangkan teknologi, utamanya di era 4.0, pertanian pun harus mengembangkan berbagai inovasi. Dengan cara itu, kita bisa mendapatkan produktivitas yang tinggi,” kata Mentan SYL.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, inovasi diperlukan untuk menggenjot produktivitas.

Baca Juga :   Bersama PRISMA, Kementan Dongkrak Populasi Babi Lewat Inseminasi Buatan

“Harus ada inovasi untuk menggenjot produktivitas, sehingga kesejahteraan petani pun bisa ditingatkan. Dan ini menjadi tujuan pertanian, yaitu meningkatkan kesejahteraan petani, selain tentunya menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat,” ujar Dedi.

Harmoko selaku penyuluh menjelaskan cara sederhana untuk mengetahui pH tanah di lahan apakah asam atau tidak, cukup melihat apakah di lahan tersebut terdapat tumbuhan melastoma malabathricum (sikaduduk). Jika tanaman tersebut tumbuh, maka mengindikasi lahan tersebut memiliki pH tanah yang asam atau dibawah 7.

“Cara berikutnya adalah dengan menggunakan kunyit seukuran jempol tangan. Kunyit dipotong menjadi dua bagian lalu ambil sampel tanah dari keempat ujung di titik lahan ditambah satu titik di tengah lahan, kemudian aduk secara merata dan basahi dengan air. Selanjutnya masukkan satu bagian kunyit yang sudah di potong kedalam tanah yang sudah dibasahi selama lebih kurang 30 menit lalu angkat, kemudian perhatikan dan bandingkan warna potongan kunyit yang di campur dalam tanah dengan potongan yang tidak dicampur,”jelas  Harmoko.

Jika warna kunyit menjadi pudar, maka lahan tersebut memiliki kadar keasaman yang tinggi maka pH di bawah 7, jika warna kunyit tetap pH tanah netral mendekati 7, sedangkan jika warna kunyit menjadi lebih gelap maka kadar keasaman tanah tersebut rendah, pH diatas 7.

Harmoko lantas mengatakan bahwa aplikasi teknologi sederhana tersebut bisa dilakukan oleh petani tanpa menggunakan alat ukur. Tetapi sebagai penyuluh, ia meminta petani menggunakan alat ukur yang disediakan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat untuk membantu petani agar cepat dalam mengukur pH tanah sehingga lebih efektif dan efisien serta mendapatkan hasil yang lebih akurat sebagai rekomendasi berbudidaya selanjutnya. Asep Koswara/ Harmoko/Yeniarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *