Kementan Tutup Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume 7

Malang – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) baru saja usai menutup pelatihan sejuta petani dan penyuluh volume 7 pada Jum’at 28/7/2023 lalu. Pelatihan dengan tema pertanian ramah lingkungan ini ditutup secara langsung oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan sebagai penyelenggara kegiatan.

Kegiatan tersebut dihadiri secara offline oleh 90 peserta di aula BBPP Ketindan, sedangkan peserta lain mengikuti pelatihan secara online melalui zoom meeting. Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari, tanggal 26 – 28 Juli 2023 secara online dan diikuti oleh 1.837.371 orang dari target 1.800.000 peserta dengan persentase mencapai 102,08% juta petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya secara serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia ataupun lokasi titik kumpul lainnya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan bahwa, “Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tinggi dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, minimalisasi ketergantungan pada pupuk anorganik, perbaikan biota tanah, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berdasarkan kondisi ekologi, dan diversifikasi tanaman.”

Pemahaman tentang pertanian ramah lingkungan akan diharapkan dapat menumbuhkan “sense of crisis” yang memotivasi untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan pertanian saat ini.

Sementara itu, dalam sambutan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan, Kelestarian sumberdaya lahan pertanian dan mutu lingkungan serta keberlanjutan sistem produksi merupakan hal yang kritikal bagi usaha pertanian di negara tropis, termasuk Indonesia.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumber daya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan dan berisiko rendah,”kata Dedi.

Baca Juga :   Kolaborasi Satgas Demi Optimalkan Tata Kelola Kelapa Sawit melalui Self-Reporting SIPERIBUN

Dedi menambahkan, petani seringkali menggunakan pestisida maupun  pupuk kimiawi yang ugal-ugalan, sehingga berakibat buruk pada pertanian dan lingkungan. Pestisida bukan hanya mematikan hama serta penyakit tanaman, tetapi juga sekaligus mematikan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Dan akibat penggunaan yang diambang batas bisa menghancurkan lingkungan

“Pengelolaan pertanian secara berlebihan dan ugal ugalan menyebabkan tanah kita hancur, udara hancur, air hancur dan lingkungan kita hancur, ” tegas Dedi.

Dalam arahannya, Kepala BBPP Ketindan, Sumardi Noor, mengatakan bahwa pelatihan pertanian ramah lingkungan hendaknya bisa diaplikasikan dengan benar oleh petani atau pelaku usaha dibidang pertanian. Hal ini agar menjadikan lahan pertanian semakin subur, lingkungan tidak tercemar akan penggunaan pestisida yang berlebihan, kesehatan terjaga, dan produksi pertanian semakin meningkat.

“Meningkatknya produktivitas pertanian, pasti diimbangi dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Oleh karena itu, hendaknya semua peserta mengaplikasikan semua arahan dari Menteri Pertanian dan Kepala BPPSDMP, serta materi yang diberikan oleh narasumber pada pelatihan ini,”jelas Sumard Noor. Yeniarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *