Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kementan Ajak Masyarakat Komsumsi Pangan Lokal

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan ekspor produk pertanian Indonesia melalui berbagai program seperti peningkatan produksi dalam negeri serta Gerakan Tiga Kali Ekspor atau Gratieks.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendorong jajaran kerjanya memperluas diversifikasi pangan lokal dalam menekan produk impor seperti gandum dan daging sapi. Syahrul mengharapkan, masyarakat bisa menanam berbagai pangan lokal seperti ubikayu dan memperbesar budidaya kambing sebagai pengganti sapi.

Menurut Syahrul, kekuatan lain akan hanya punya peran dan fungsi yang kuat kalau ketahanan pangannya berjalan dengan baik. Oleh karena itu, sangat penting peranan ketahanan pangan dan kekuatan negara dalam menyiapkan makanan rakyat Indonesia.
“Semua menjadi potensi kita dalam memperkuat ketahanan di dalam rangka menjaga kehidupan negara yang lebih besar kedepan,” ujar Syahrul. Dengan adanya potensi tersebut dan mengingat Indonesia sebagai negara agraris yang dilintasi garis khatulistiwa, Syahrul mengingatkan perlunya tata kelola yang tepat.

“Kita tingkatkan ekspor yuk. Semua yang berkait dengan ekspor harus kita dorong. Katakanlah sarang burung walet, kopi, kelapa dan juga porang. Semua harus kita dorong agar mampu menjaga inflasi,” katanya.

Sementara itu pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan, Volume 39 yang bertemakan “Pangan Lokal Disantap Kita Semua Mantap”, Selasa (03/10/2023), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa Kementan memiliki strategi dalam penyediaan bahan nasional. Diantaranya dengan dengan cara memproduksi sendiri, walaupun ada beberapa komoditas yang masih impor.

Kabadan Dedi menekankan agar lumbung pangan mulai dari tingkat provinsi hingga desa dipastikan ketersediaannya. Sehingga Indonesia dapat melalui krisis pangan.

Termasuk upaya diversifikasi pangan dengan mengonsumsi pangan lokal seperti jagung, ubi, singkong dan lainnya. Bukan beralih ke pangan impor seperti mie gandum dan olahan gandum lainnya,” tegas Kabadan Dedi.

Baca Juga :   Semarak HUT 77 RI, SMKPPN Kementan Gelar Lomba Variatif

Narasumber Ngobras, Yayat Priati merupakan petani kabupaten Sukabumi berasal dari P4S Liseli mengatakan bahwa pangan lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.

Pemanfaatan pangan ini merupakan salah satu pilar ‘ketahanan pangan’ yang mengacu kepada penggunaan pangan oleh rumah tangga dan kemampuan tubuh seseorang untuk menyerap dan menggunakan zat gizi dari dalam bahan pangan.

“Pangan lokal penting dikarenakan konsumsi beras yang masih tinggi, rendahnya konsumsi sayuran dan buah, konsumsi protein masih didominasi oleh protein nabati, tingginya angka sampah pangan, tingginya konsumsi terigu rumah tangga dan industri, belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal, buah lokal dan sumber karbohidrat sagu, umbi-umbian”, ujar Yayat.

Yayat menuturkan peran P4S Liseli dalam pengembangan pangan lokal diantaranya Pendidikan, Pelatihan Perahu kertas, Pengembangan Teknologi Lokal, Inkubator Tenaga Surya, Starter Bi-proyo, Promosi Pangan Lokal, Pameran, Konten digital, Digital Marketing.

Adapun keunggulan makanan lokal yaitu makanan lokal jauh lebih segar, pangan lokal lebih bergizi, pangan lokal inik dan khas, membeli pangan lokal bermanfaat bagi lingkungan, membeli pangan lokal mendukung ekonomi daerah, kebijakan pertanian berkelanjutan dan pelestarian tradisi, tutup Yayat. HV/NF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *