Model Teknologi Sebagai Langkah Mitigasi Perubahan Iklim

Jambi – Kondisi dunia kembali dihadapkan dengan ancaman El Nino, salah satu dampak pertama adalah kekeringan yang lebih ekstrim serta cuaca panas yang berkepanjangan. Selain itu, cuaca yang sangat panas dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Dampak selanjutnya adalah kerugian yang dialami oleh masyarakat, pekebun dan Stake Holder banyak mengalami penurunan produksi dan ancaman kebakaran ditengah menguatnya El Nino yang melanda Indonesia.

BMKG dan beberapa Pusat Iklim Dunia memprediksi El-Nino terus bertahan hingga periode Januari-Februari-Maret 2024, selanjutnya ENSO yang merupakan fenomena iklim tunggal diprediksi akan berada dalam kondisi Netral.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab menyampaikan dalam data monitoring hari tanpa hujan dengan data pemutakhiran 20 Oktober 2023 sebagian wilayah di Pulau Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali – Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi bagian selatan, Maluku serta Papua bagian selatan telah mengalami Hari Tanpa Hujan berturut-turut antara 21 – 60 hari.

“Sementara itu, Hari Tanpa Hujan kategori Ekstrem Panjang dengan HTH lebih dari 60 hari terpantau terjadi di wilayah Lampung, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Di Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Kalteng, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.” Ujar Fachri.

Perlunya antisipasi dan mitigasi yang intensif dengan inovasi dan teknologi rekayasa cuaca (TRC), ini mengacu pada prediksi dan analisa dari BMKG bahwa hingga Oktober 2023 menjadi puncak El Nino dan efeknya berlangsung pada akhir tahun 2023.

“TRC ini mengatasi/mereduksi musim trek tanaman perkebunan kelapa sawit dengan mengatur/mengelola hujan pada musim kemarau menggunakan teknologi hujan buatan atau Teknologi Rekayasa Cuaca (TRC) dengan bahan semai system fogging/flare yang berbasis drone atau pesawat tanpa awak yang bisa beroperasi sekitar perkebunan kelapa sawit tanpa tergantung dengan landasan pesawat,” ungkap R. Joko Gunawan Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN dalam paparannya pada kegiatan Rapat Koordinasi Dampak Perubahan Iklim dan Pencegahan Kebakaran Subsektor Perkebunan (26/10).

Baca Juga :   SMKPPN Kupang Optimis Lahirkan Generasi Pertanian dari Wilayah Timur

Israr Arbar dari Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa salah satu cara dalam mendeteksi dini titik panas/hotspot menggunakan teknologi sistem informasi deteksi dini pengendalian kebakaran hutan dan lahan atau bisa disebut SiPongi.

“SiPongi menjadi sumber informasi karhutla terlengkap dan memiliki banyak keunggulan. Selain data near real time update per 30 menit, juga tersedia data hotspot sampai tingkat desa, informasi cuaca meliputi arah angin dan sebaran asap, luas karhutla (perhitungan citra satelit), informasi daerah rawan karhutla, hingga sampai pada fasilitasi groundcheck hotspot. SiPongi juga sudah diseminasi publik melalui media sosial, dan sudah diunduh melalui Play Store Android dan App Store di iOS” ujar Israr.

Muhdan Syarovy, Peneliti Agronomi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) berpendapat Perubahan iklim mengakibatkan semakin intensnya anomali iklim, yang akan mempengaruhi fluktuasi produktivitas tanaman kelapa sawit. “Seluruh pihak/stakeholder harus ikut serta dalam menghadapi perubahan iklim melalui sosialisasi ke petani dalam penerapan strategi dan teknologi yang adaptif terhadap anomali iklim” ungkap Muhdan.

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa aplikasi model teknologi mitigasi dan adaptasi pada sub sektor perkebunan perlu dilaksanakan di daerah agar pembangunan perkebunan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan produktifitas dapat dipertahankan sehingga mampu mengurangi kehilangan hasil akibat dampak perubahan iklim. Humas Ditjenbun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *