Pertahankan Eksistensi Sawit, Perkuat Kemitraan dan Kolaborasi MultiPihak

PEKANBARU – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, meminta seluruh jajarannya agar memperkuat perkelapasawitan Indonesia. Butuh kolaborasi bersama demi tingkatkan industri kelapa sawit Indonesia dan kesejahteraan pekebun sawit.

Kementerian Pertanian mengapresiasi kinerja dan kerja keras para pelaku usaha perkebunan termasuk pekebun yang telah memberikan kontribusi positif bagi perkembangan kelapa sawit Indonesia, dan saat ini Indonesia menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan areal seluas 16,83 juta Hektar dengan produksi 45,1 juta ton CPO.

“Industri minyak sawit memiliki peran strategis dan telah berkembang di 26 provinsi, dimana dua pulau utama sentra perkebunan kelapa sawit Indonesia berada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Eksistensi sawit kian positif, ekspor CPO dan turunannya telah melampaui nilai ekspor minyak dan gas bumi. Kelapa Sawit telah menggantikan bahan bakar fosil sekitar 2,3 juta KL untuk energi berkelanjutan. Dan yang terbaru, salah satu maskapai penerbangan Indonesia (Garuda) telah menggunakan bahan bakar dengan campuran minyak kelapa sawit (Bioavtur) pada penerbangan rute Jakarta-Surakarta 27 Oktober 2023 kemarin,” ujar Andi Nur Alam Syah Direktur Jenderal Perkebunan pada kegiatan Munas Aspekpir Indonesia Ke-1 Tahun 2023 di Pekanbaru Riau (05/11).

Riau memiliki luas areal perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan luas areal mencapai 3,4 Juta Ha dengan produksi 8,96 Juta Ton. Inilah yang menjadikan Riau sebagai “rumah” didirikannya ASPEKPIR, dan digelarnya kegiatan Munas Aspekpir Indonesia Ke-1 Tahun 2023.

Tantangan utama pekebun sawit Indonesia salah satunya produktivitas dan penggunaan agroinput, kedepan perlu dimaksimalkan kembali, karena dapat berdampak pada masa depan sawit rakyat Indonesia jika tidak segera dilakukan suatu langkah komprehensif.

“Pengembangan kelapa sawit kedepan harus memiliki konsep “sawit satu” yang akan dilakukan melalui perbaikan tata kelola kelapa sawit yang memiliki sistem terintegrasi berbasis spasial sehingga perlu kerja inovatif serta kerja kolaboratif,” ujar Andi Nur.

Baca Juga :   Kembangkan Minat Job Seeker, SMK PP Negeri Kementan Ajak Siswa Kunjungi PTPN VII

Andi Nur menambahkan, peta spasial perkebunan kelapa sawit secara nasional akan digunakan menjadi data induk yang dapat digunakan dalam setiap pengembangan kelapa sawit rakyat, baik program PSR, program sarana prasarana perkebunan kelapa sawit, pengembangan sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit dan juga penyusunan surat tanda daftar usaha budidaya (STDB) kelapa sawit.

“Perkebunan kelapa sawit khususnya sawit rakyat perlu mendapat perhatian banyak pihak. Berbagai tantangan yang dihadapi Pekebun sawit kita, tentu perlu kerja keras dan kerja kolaborasi dari semua elemen dalam rangka mendukung secara aktif program-program yang yang mendorong peningkatan produktivitas kebun kelapa sawit rakyat. Di moment ini, saya mengajak semua pihak yang terlibat untuk ikut dalam perbaikan tata kelola perkebunan sawit secara berkelanjutan melalui program-program pemerintah seperti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Pengembangan SDM, Sarana dan Prasarana sebagai wujud komitmen bersama meningkatkan produktivitas kebun rakyat yang pada akhirnya memberikan peningkatan kesejahteraan pekebun sawit,” tambah Andi Nur.

Andi Nur menekankan, pengembangan perkebunan kelapa sawit tentu membutuhkan kemitraan antara Pekebun dengan Perusahaan Perkebunan. Kemitraan dalam Usaha Perkebunan harus dirajut dalam bingkai kerjasama yang saling menguntungkan, saling menghargai, saling bertanggungjawab, serta saling memperkuat dan saling ketergantungan antara Perusahaan Perkebunan dengan Pekebun.

“Membangun kemitraan yang baik perlunya memerhatikan beberapa hal prinsip diantaranya kepastian dalam menjalin kemitraan, menghargai keragaman di antara mitra, mengusahakan kesetaraan untuk mencegah terjadinya ketimpangan kekuasaan dalam kemitraan, bersikap transparan terhadap kepentingan dan harapan masing-masing pihak dalam bekerja sama serta menciptakan manfaat bersama agar menghindari persaingan di antara para mitra, sehingga diharapkan manfaat dari kemitraan tersebut dapat dirasakan oleh semua pihak terkait dalam kemitraan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga :   Kementan Gencarkan Digitalisasi Pertanian Melalui Low Cost Precision Farming

“Saya berharap besar kepada ASPEKPIR dan semua insan perkebunan terkait, dapat mempertahankan eksistensinya dalam mewadahi Pekebun kelapa sawit khususnya Pekebun PIR yang telah menjalin kemitraan dengan baik. Peranan ASPEKPIR dan asosiasi Perusahaan Perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat duduk bersama dengan Pemerintah untuk mencari titik temu dan solusi jitu tepat guna dalam menjawab tantangan kemitraan perkebunan kelapa sawit sehingga tercipta iklim usaha yang sehat di masa yang akan datang, tidak terkecuali berkait dengan rantai pasok, serta melalui Munas ke-1 ASPEKPIR ini dapat menghasilkan ide dan pemikiran dan langkah konkret dalam upaya pembangunan kelapa sawit di Indonesia khususnya dalam mendukung peran Pekebun kelapa sawit dalam industri kelapa sawit,” harap Andi Nur. Humas Ditjenbun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *