Kementan Sigap Tangani Serangan Hama Uret, Demi Jaga Kualitas Tebu

Kediri – Kementerian Pertanian berkomitmen penuh kejar target percepatan swasembada gula 2024. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, meminta jajarannya giatkan upaya perkuat tebu Indonesia dan akselerasikan swasembada secepatnya.

“Selain terus meningkatkan pengembangan komoditas tebu melalui perluasan, bongkar ratoon dan rawat ratoon, salah satu upaya yang harus dilakukan, yang tak kalah penting harus dilakukan yaitu menjaga produksi, produktivitas dan mutu, dengan mencegah, mengantisipasi dan mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman perkebunan,” ujar Mentan.

Sejalan dengan arahan Mentan, Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengatakan, Direktorat Jenderal perkebunan secara periodik melakukan pemantauan, identifikasi, mitigasi dan upaya pengendalian serta penanganan lainnya.

Menurut informasi Direktorat Jenderal Perkebunan, pada tahun 2023 telah mengalokasikan kegiatan rawat ratoon di Kabupaten Kediri seluas 100 ha. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan pada Triwulan II tahun 2023, ditemui adanya serangan Lepidiota stigma yang dikenal dengan hama uret tebu di Kabupaten Kediri seluas 687,24 ha dari total luas areal perkebunan tebu rakyat seluas 21.392 ha. Kabupaten Kediri merupakan salah satu daerah endemis hama uret tebu di Provinsi Jawa Timur. Pada umumnya L. stigma menimbulkan kerusakan yang parah pada tanah yang dominan berpasir, tanah dengan keremahan tinggi, dan tanah-tanah berkerikil.

“Dampak serangan hama uret tentu sangat merugikan bagi pekebun tebu. Taksasi kerugian hasil yang ditimbulkan akibat serangan uret ini dapat mencapai Rp 9,32 Milyar dari luas yang terserang uret tebu 687,24 ha. Hal ini dikarenakan serangan uret dapat menghabiskan perakaran tanaman tebu dan menyebabkan kematian tanaman,” jelas Andi Nur.

Andi Nur menambahkan, tentu Kementerian Pertanian tak tinggal diam, terus berupaya membantu pekebun mengatasi tantangan dilapangan. Salah satu upaya yang telah dilakukan Direktorat Jenderal Perkebunan bersama Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, berkolaborasi dengan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, dan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, melakukan pengendalian hama uret tebu Lepidiota stigma secara terpadu dan ramah lingkungan yaitu pengendalian secara fisik dengan cara pengambilan uret pada saat pengolahan lahan, penggunaan Agens Pengendali Hayati (APH) Nematoda Entomo Patogen (NEP) Steinernema sp., jamur Metarhizium sp. dan secara mekanis dengan pemasangan jaring dan lampu perangkap kumbang.

Baca Juga :   Ditjenbun Apresiasi Petani Kreatif dan Inovatif di PENAS

Sementara itu, Direktur Perlindungan Perkebunan, Hendratmojo Bagus Hudoro, mengatakan, Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2023 telah mengalokasikan kegiatan berupa pengendalian OPT tebu khususnya pengendalian hama uret tebu Lepidiota stigma seluas 50 ha di Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri.

“Rata-rata uret yang terambil pada saat pengolahan lahan sebanyak 2.205 ekor/1.000 m2 atau rata-rata 2-3 ekor/m2. Sedangkan total kumbang yang terperangkap pada 100 jaring yang telah dipasang sebanyak 114.920 ekor, dan dimungkinkan akan terus bertambah karena musim penghujan belum berlangsung. Dari hasil pengendalian tersebut, dapat memutus siklus hidup uret tebu pada periode berikutnya sehingga serangan uret tebu dapat menurun,” ujar Bagus.

Upaya yang dilakukan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, mendapatkan apresiasi dari Kelompok Tani Lestari dan pekebun tebu di Kabupaten Kediri sangat berterima kasih dengan adanya bantuan pengendalian yang telah diberikan oleh pemerintah, dan berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga produksi dan produktivitas tebu tetap terjaga mutu dan kualitasnya, serta ketersediaan bahan baku tebu aman terkendali. Humas Ditjenbun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *