Kementan Perkuat Kapabilitas, Demi Akselerasi dan Optimalkan Program Pembangunan Perkebunan

Bandung – Demi memperkuat profil dan perilaku aparatur negara yang memiliki integritas, produktivitas dan bertanggung jawab serta memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang prima melalui perubahan pola fikir (mind set) dan budaya kerja (culture set), Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan gelar Pelatihan Feasibility Study dan Optimasi Program Pembangunan Perkebunan, mulai dari tanggal 8 hingga 10 November 2023 di Bandung Jawa Barat.

“Pelatihan ini dimaksudkan untuk melakukan pelatihan studi kelayakan dengan menggunakan pendekatan value chain analysis dan meningkatkan optimalitas program dengan menggunakan metode Linear Programing bagi pegawai Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia,” ujar Andi Nur Alam Syah, Direktur Jenderal Perkebunan.

Andi Nur menambahkan, pentingnya mengenalkan paradigma agribisnis, dan menerapkannya dalam tahap awal proses perencanaan suatu kegiatan, dengan didukung pemahaman terkait prinsip, metode, dan teknik pemetaan resiko dan potensi dengan pendekatan value chain analysis untuk menilai kelayakan suatu program, serta teknik optimasi suatu program dengan metode Linear Programing.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian berupaya terus mengoptimalkan dan mendorong langkah strategis secara tepat guna, baik saat menyusun, mendokumentasikan, mengembangkan, memonitor dan mengevaluasi suatu kegiatan, agar sesuai dengan tugas dan fungsi yang dimilikinya serta target tercapai dengan baik, yang nantinya akan berdampak positif terhadap kesejahteraan para pekebun Indonesia.

Pelatihan ini dimulai dari Tahap Perencanaan yang merupakan tahap awal yang dapat memastikan efisiensi dan efektifitas suatu program. Efisiensi dalam artian program tersebut dapat menghasilkan outcome dan output dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada dan efektifitas yang berarti program tersebut dapat memberikan dampak yang optimal, presisi, dan akurat sesuai sasaran program.

“Untuk itu pentingnya menyelaraskan pemahaman dan meningkatkan kemampuan perencanaan bagi aparatur negara, khususnya Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, agar semua program dan kegiatan terencana secara strategis dan bisa terlaksana dengan efektif dan efesien serta output atau dampak positifnya tepat sasaran,” ujarnya.

Baca Juga :   Terapkan Teknologi Pertanian, SMKPP Kementan Manfaatkan TEFA

Lebih lanjut Andi Nur mengatakan, dalam menyusun perencanaan suatu program, diperlukan kemampuan menganalisis tingkat keberhasilan dan kelayakan program. Pendekatan value chain membantu dalam membuka wawasan dan memperluas perspektif, yang dapat meningkatkan kemampuan abstraksi fenomena dan strukturasi hubungan unsur-unsur yang membentuk sistem rantai nilai suatu komoditas, sehingga dapat dipetakan potensi dan resiko yang terdapat pada suatu sistem rantai nilai tersebut.

Metode Critical Path Method (CPM) & Project Evaluation and Review Technique (PERT) dapat digunakan sebagai alat yang bertujuan untuk optimasi dengan menggunakan informasi potensi dan resiko sebagai indikator yang terukur.

Menariknya, materi yang diberikan dalam kegiatan pelatihan ini, salah satunya Sistem Agribisnis dan Value Chain Analysis, Feasibility Study Program Pembangunan Perkebunan, Linear Programing dan Optimasi Program Pembangunan Perkebunan. Kegiatan ini mendapat respon positif dan antusias cukup tinggi dari para peserta pelatihan, karena akan diimplementasikan pada program atau kegiatan di unit kerja lingkup Ditjen Perkebunan.

“Diharapkan pelatihan ini dapat bermanfaat dan bisa diterapkan dalam pemilihan kebijakan program dan kegiatan di lingkup Ditjen Perkebunan, guna mendukung dan mengoptimalkan program Kementerian Pertanian,” harap Andi Nur. Humas Ditjenbun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *