Gencarkan Pompanisasi, Kementan Pacu Produksi Padi Kaltara

KALTARA – Kementerian Pertanian (Kementan) RI sedang menggencarkan percepatan penambahan luas tanam dan peningkatan indeks pertanaman (IP) padi melalui program pompanisasi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, mengatakan bahwa solusi cepat untuk meningatkan produksi pertanian saat ini adalah optimasi melalui pompanisasi. Dia yakin apabila program tersebut dijalankan maka Indonesia dapat mewujudkan swasembada dan juga lumbung pangan dunia.

“Ingat saat ini ada banyak negara yang mengalami penurunan produksi dan ada banyak penduduk dunia yang menderita kelaparan. Karena itu harus kita mitigasi dengan solusi cepat berupa optimasi melalui pompanisasi,” ujar Mentan Amran.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi.

Ia menuturkan bahwa pompanisasi dapat mempercepat meningkatkan produksi padi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan ber-IP satu yang dekat dengan sumber air.

“Kalau lahan persawahan tadah hujan yang ber-IP satu kita tingkatkan jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat,” ujar Dedi.

Karenanya, BPPSDMP Kementan turut mengawal, mengakselerasi, dan menyukseskan kegiatan upaya khuhsu (Upsus) percepatan penambahan luas tanam dan peningkatan IP padi melalui program pompanisasi, seperti yang baru-baru ini digelar di Kalimantan Utara (Kaltara).

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Kapuslatan) Kementan, Muhammad Amin, saat mengunjungi Desa Salimbatu, Kec. Tanjung Palas, Kab. Bulungan, Kaltara, Kamis (6/6/2024), menilai bahwa wilayah tersebut telah mengalami dampak positif dari penggunaan pompa air di lahan pertanian mereka.

“Dengan luas lahan 10 hektar, para petani di Desa Salimbatu tidak hanya menanam padi tetapi juga beternak ikan di sawah yang tergenang air. Penggunaan pompa air baru telah berhasil mengairi seluruh lahan tersebut,” ujar Amin.

Baca Juga :   Pertanian Cerdas Iklim Kementan Beri Nilai Tambah untuk Petani Subang Hadapi El Nino

Saat Kapuslatan berkunjung ke desa tersebut, kondisi sawah sedang dalam masa pasca-panen dengan hasil gabah kotor sebanyak 2 ton.

Namun, kata dia, penanaman padi baru terpaksa dihentikan sementara waktu untuk mengatasi penyakit yang menyerang tanaman padi.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Kapuslatan meminta Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) untuk segera menyiapkan bibit padi yang tahan terhadap genangan air dan penyakit.

“Bibit yang dimaksud antara lain varietas R.36, R.37, dan Impala yang memang khusus untuk lahan rawa seperti di Desa Salimbatu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kapuslatan juga meninjau kondisi pompa air di lahan sawah desa tersebut. Ia menuturkan, pompa yang sebelumnya dilaporkan mengalami kerusakan kini telah diperbaiki oleh kelompok petani setempat dan berfungsi dengan baik.

Lebih lanjut, Kapuslatan menuturkan, selain menanam padi tergenang serta budidaya ikan, para petani di Desa Salimbatu juga menanam jeruk dan jagung di sekitar sawah untuk menambah penghasilan.

“Diversifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan memberikan hasil yang lebih optimal bagi komunitas pertanian di desa tersebut,” ujar Amin.

Ia juga berharap melalui kunjungannya ke Desa Salimbatu dapat memberikan dorongan dan semangat baru bagi para petani untuk terus berinovasi dan memanfaatkan teknologi pertanian.

“Sehingga para petani mampu mencapai hasil yang lebih baik dan berkelanjutan. Meraka mampu menanam padi minimal dua kali dalam setahun, seperti apa yang ingin dicapai oleh program Kementerian Pertanian menambah luas tanam dengan pompanisasi,” ujarnya. CHA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *