MALANG – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong langkah percepatan swasembada pangan nasional melalui pemanfaatan teknologi dan mekanisasi pertanian. Hal ini tercermin dalam kegiatan panen raya padi yang digelar di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, dengan dukungan penuh dari Brigade Alsintan (BP) dan para penyuluh pertanian setempat, Sabtu (5/7/2025).
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, inovasi di sektor pertanian menjadi kebutuhan mendesak dalam menjawab tantangan zaman, terutama perubahan iklim yang berdampak langsung pada produktivitas dan ketahanan pangan.
Pertanian ke depan harus berbasis inovasi. Kita menghadapi tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan berkurangnya tenaga kerja. “Maka, teknologi dan mekanisasi adalah solusi utama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Mentan.
Dalam kegiatan panen raya tersebut, alsintan jenis Combine Harvester yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat dimanfaatkan secara optimal oleh petani. Keberadaan alat ini mempercepat proses panen, menekan biaya produksi, dan meminimalkan kehilangan hasil panen.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengakselerasi program strategis Kementan.
“Swasembada pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga kerja sama. Pemerintah, petani, penyuluh, dan pihak lain harus bersinergi. Teknologi tanpa pendampingan tidak akan maksimal. Kita harus bergandengan tangan menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” tegas Santi.
Brigade Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang yang diterjunkan bersama para penyuluh pertanian dari BPP Kepanjen, di antaranya adalah Zedin Oktavia, Sirojut Tamam, Silviana Kusuma Wardania, dan Winarni. Kegiatan ini juga dihadiri Letkol Suharto dari Kostrad, yang menunjukkan dukungan TNI dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
Pemanfaatan BP Alsintan membawa dampak positif bagi petani. Selain mempercepat proses panen, teknologi ini juga meningkatkan efisiensi tenaga kerja, mengurangi kerusakan hasil, serta menjaga kualitas gabah.
Manfaat langsung yang dirasakan petani antara lain waktu panen lebih singkat, biaya produksi lebih rendah, hasil panen meningkat dan lebih berkualitas dan siklus tanam berikutnya dapat dilakukan lebih cepat.
Kegiatan ini menjadi bukti konkret bahwa penggunaan teknologi, didukung sinergi antara pemerintah dan petani, mampu menjawab tantangan sektor pertanian saat ini. Dengan pendekatan modern dan kerja kolektif, Indonesia terus melangkah menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan. Zedin Oktavia*









