Industri sawit memasuki masa penentuan setelah lebih dari empat dekade berkembang sejak era 1980-an. Dengan usia kebun yang rata-rata memcapai 40 tahun lebih, peremajaan dan penguatan fondasi hulu menjadi kunci menjaga keberlanjutannya.
Direktur Perlindungan Perkebunan Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro, menyampaikan bahwa sawit yang saat ini dinikmati merupakan hasil perjalanan panjang sejak program Perkebunan Inti Rakyat (PIR), termasuk PIR-Trans dan PIR-Sus, mulai digulirkan pada awal 1980-an.
“Kalau kita hitung sejak tahun 80-an sampai sekarang 2026, berarti sudah sekitar 40 sampai 46 tahun. Ini menjadi pertimbangan kita bagaimana menjamin keberlanjutan. Kata kuncinya sekarang adalah keberlanjutan,” ujar. dia dalam Kampanye Sawit Baik Bersama Media, Jakarta, Senin (2/3).
Dia mengingatkan, tanpa langkah peremajaan dan peningkatan produktivitas, dikhawatirkan kurva produksi sawit akan mengalami penurunan, padahal kontribusinya terhadap perekonomian nasional sangat besar.
Hingga kini, sawit masih menjadi penyumbang terbesar di sektor pertanian, dengan kontribusi sekitar 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, di samping komoditas karet, kopi, kakao, dan kelapa.
“Mensyukuri tidak hanya sekedar menikmati, tapi bagaimana mengembalikan rasa syukur kita bisa mewujudkan keberlanjutan, bukan hanya untuk kita sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” ujar dia.
Dia menjelaskan, sawit adalah tanaman yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan komoditas minyak nabati lain, seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, baik dari sisi produktivitas maupun efisiensi pemanfaatan lahan.
Rata-rata produktivitas sawit nasional mencapai 3,3 ton per hektare, jauh lebih tinggi dibanding kedelai yang hanya 0,4 ton per hektare.
“Dibanding kedelai yang 0,4 yang mungkin di negara-negara Amerika, Eropa itu menjadi satu negara apa komoditas yang diunggulkan. Tapi kita masih mempunyai keunggulan sawit,” kata dia.
Dari sisi efisiensi lahan, sawit juga dinilai paling unggul. Untuk menghasilkan satu ton minyak, sawit hanya membutuhkan sekitar 0,26–0,3 hektare lahan. Sementara itu, bunga matahari dan rapeseed masing-masing memerlukan sekitar 1,4 hektare, dan kedelai bahkan bisa mencapai 2 hektare.
“Artinya apa? Sangat efisien dan produktivitas tinggi sekali produktivitasnya ini. Ini kan jadi satu keunggulan yang tadi tidak boleh harus kita abaikan,” tegas Bagus.
Secara nasional, Indonesia tercatat sebagai negara dengan areal sawit terluas di dunia. Berdasarkan data 2019, luas tutupan sawit mencapai 16,83 juta hektare. Produksi pada 2023 sekitar 47 juta ton dan diperkirakan meningkat menjadi 48,12 juta ton pada 2025.
Namun demikian, capaian tersebut masih belum optimal. Bagus mengatakan, potensi produktivitas sawit saat ini baru berada pada kisaran 60–70 persen dari kapasitas seharusnya.
“Kita masih punya PR yang cukup banyak. Salah satu yaitu adalah bagaimana meningkatkan produktivitas,” kata dia.
Kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional juga besar dari sisi ketenagakerjaan. Tercatat sekitar 9,7 juta orang terdampak langsung dan 6,8 juta orang terdampak tidak langsung berdasarkan data BPS dan Ditjen Perkebunan.
Jumlah ini berpotensi lebih besar karena rantai usaha sawit tidak hanya terbatas pada crude palm oil (CPO) dan minyak goreng.
Ke depan, pengembangan hilirisasi dinilai menjadi peluang strategis. Selama ini produk turunan masih didominasi CPO, minyak goreng, dan biodiesel. Padahal, sawit berpotensi dikembangkan ke sektor farmasi, kosmetik, kesehatan, hingga energi terbarukan yang lebih luas.
Terkait isu negatif terhadap sawit, Hendratmojo menilai hal tersebut tidak terlepas dari tingginya daya saing komoditas ini di pasar global.
“Kita harus tetap berpikir positif. Sawit punya keunggulan dari sisi produktivitas, efisiensi lahan, dan skala areal. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita menjaga dan meningkatkan daya saing itu,” imbuh dia. SY






