Sambas – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah strategis dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, salah satunya melalui peningkatan kapasitas generasi muda di sektor pertanian. Sebagai langkah konkret mendukung hal tersebut, Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu menggelar Pelatihan bagi Pemuda Tani Mendukung Swasembada Pangan pada 3 – 5 Juni 2026.
Kegiatan yang diikuti oleh 20 pemuda tani dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Sambas ini berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia pertanian yang mampu mengelola usaha tani secara modern dan berkelanjutan.
“Kompetensi SDM harus terus ditingkatkan. Ini menjadi kunci untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, produktivitas tinggi, dan modernisasi pertanian,” ujar Amran.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penguatan kompetensi generasi muda menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat adopsi inovasi teknologi di sektor pertanian.
Sementara itu, Kepala BBPP Batu, Ugik Romadi, menegaskan bahwa penguatan kapasitas pemuda tani menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Pemuda tani merupakan aset penting pembangunan pertanian. Mereka perlu dibekali kemampuan teknis, manajerial, dan kewirausahaan agar mampu menjadi pelaku utama pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Selama tiga hari pelatihan, peserta akan mendapatkan materi mengenai kebijakan dan peran pemuda tani dalam pembangunan pertanian, analisis kelayakan usaha tani, nilai tambah produk pertanian, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), digital marketing, pengelolaan rantai pasok, hingga produksi bio-input mandiri seperti mikroorganisme lokal (MOL), pestisida nabati, dan pupuk hayati.
Selain pembelajaran di kelas, peserta juga akan mengikuti praktik penyusunan analisis usaha tani, pemasaran digital, serta pembuatan sarana produksi pertanian ramah lingkungan yang dapat diterapkan langsung di wilayah masing-masing.
Koordinator kegiatan menyampaikan bahwa pendekatan pelatihan dirancang tidak hanya meningkatkan pengetahuan peserta, tetapi juga mendorong lahirnya usaha-usaha pertanian yang lebih efisien, berorientasi pasar, dan memiliki daya saing.
Melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sebagai bidang usaha yang menjanjikan, sekaligus menjadi motor penggerak regenerasi petani menuju pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern. PRIMA/DWI/BBPP BATU













