Batu – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat peran petugas kesehatan hewan sebagai garda terdepan dalam menjaga produktivitas ternak sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman penyakit hewan menular dan zoonosis. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah meningkatkan kompetensi petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) agar mampu memberikan pelayanan veteriner yang semakin profesional dan berkualitas.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Manajemen Pelayanan Puskeswan hasil kerja sama antara Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan dengan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu.
Sebanyak 35 aparatur Disnakkeswan Kabupaten Lamongan mengikuti pelatihan yang terdiri atas 19 dokter hewan, 5 paramedik veteriner, dan 11 staf Puskeswan. Pelatihan dilaksanakan selama lima hari dengan metode blended learning, yaitu pembelajaran daring pada 16–17 Juli 2026 dan dilanjutkan pembelajaran luring pada 22–24 Juli 2026 di Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Tuban.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa petugas Puskeswan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan hewan sekaligus menjamin keamanan pangan asal ternak yang dikonsumsi masyarakat.
“Petugas Puskeswan adalah garda terdepan pelayanan kesehatan hewan. Kita tidak hanya memperkuat kesehatan hewan, tetapi juga memastikan keamanan pangan asal ternak yang dikonsumsi masyarakat. SDM yang andal adalah kunci keberhasilan sektor pertanian dan peternakan ke depan,” ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas aparatur daerah merupakan langkah strategis dalam mewujudkan pelayanan veteriner yang adaptif dan modern.
“Kami terus mendorong UPT pelatihan menjadi motor penggerak peningkatan kompetensi petugas di lapangan. Hasil pelatihan diharapkan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas layanan Puskeswan di seluruh Indonesia,” ujar Santi.
Kepala BBPP Batu, Ugik Romadi, mengatakan bahwa petugas teknis merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan hewan di daerah sehingga peningkatan kompetensi harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Petugas teknis adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan ternak di wilayahnya. Karena itu, mereka perlu terus dibekali pelatihan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional, cepat, dan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi,” kata Ugik.
Pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan, Shofiah. Ia menyampaikan bahwa Kabupaten Lamongan merupakan salah satu sentra sapi potong terbesar di Jawa Timur sehingga kualitas pelayanan kesehatan hewan harus terus ditingkatkan untuk menjaga produktivitas peternakan.
Menurutnya, petugas Puskeswan yang terdiri atas dokter hewan, paramedik kesehatan hewan, dan paramedik inseminasi buatan perlu memperoleh pelatihan secara berkala agar kompetensinya terus berkembang dan mampu menjawab tantangan pelayanan di lapangan.
Melalui Pelatihan Manajemen Pelayanan Puskeswan ini, Kementerian Pertanian berharap kapasitas petugas kesehatan hewan di Kabupaten Lamongan semakin kuat dalam memberikan pelayanan veteriner yang berkualitas, menjaga kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas peternakan, serta mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional. CTR/DWI/BBPP BATU








