BATU – Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu kembali menggelar Bertani on Cloud (BOC) Volume 369 secara daring, Kamis (1/10/2026). Mengangkat tema “Rahasia Lolos CPPOB Olahan Susu Anti Ribet”, kegiatan ini diikuti oleh 283 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Giat ini menjadi bagian dari upaya BBPP Batu dalam memperluas akses pembelajaran dan peningkatan kompetensi masyarakat, khususnya pelaku usaha di bidang peternakan dan pengolahan hasil peternakan.
Melalui BOC, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek teknis, tetapi juga dapat belajar langsung dari pengalaman praktisi yang telah menerapkan pengetahuan tersebut dalam pengembangan usaha.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat kemandirian pangan. Dalam berbagai kesempatan, Amran mendorong agar komoditas pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah di dalam negeri sehingga nilai tambahnya dapat dirasakan oleh pelaku usaha dan petani.
Khusus komoditas susu, Kementerian Pertanian juga tengah memperkuat produksi susu dalam negeri sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada susu nasional. Per 30 September 2026, Kementan menyampaikan target penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029, disertai penguatan koperasi, produktivitas, pakan, pembiayaan, dan kepastian penyerapan susu peternak.
Sejalan dengan arah tersebut, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa penguatan SDM menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan pertanian. Dalam arahannya, ia menyampaikan bahwa hilirisasi produk peternakan, khususnya susu, perlu didukung dengan peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan memiliki nilai tambah.
“Pelatihan tidak boleh berhenti pada peningkatan pengetahuan. Kompetensi yang diperoleh harus dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja serta pelayanan di lapangan,” ujar Idha dalam kesempatan sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BBPP Batu, Ugik Romadi, memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi BOC Volume 369. Dalam arahannya disampaikan bahwa penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) menjadi bagian penting dalam mendukung keamanan, mutu, dan kelayakan produk pangan.
“CPPOB adalah suatu pedoman yang menjelaskan bagaimana memproduksi pangan agar aman, bermutu dan layak untuk dikonsumsi. Sebagai persyaratan dalam menjamin keamanan pangan, setiap pelaku usaha di bidang pangan wajib melaksanakan CPPOB tanpa terkecuali,” ujarnya.
Dalam arahannya juga disampaikan bahwa penerapan CPPOB dapat memberikan dampak terhadap keberlangsungan dan kredibilitas industri maupun UMKM pangan, antara lain melalui peningkatan kepercayaan konsumen, pembangunan citra positif dan profesionalitas usaha, serta pembukaan akses ke pasar yang lebih luas.
BOC Vol. 369 menghadirkan Toton Fathoni, praktisi sekaligus owner CV. Indo Dairy Fresh Banyuwangi, sebagai narasumber. Ia merupakan pelaku usaha yang mengembangkan produk susu pasteurisasi dan memiliki pengalaman langsung dalam penerapan standar produksi pangan olahan.
Menariknya, Toton Fathoni merupakan alumni atau purnawidya magang dan pelatihan pengolahan susu di BBPP Batu. Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai penting dalam kegiatan BOC kali ini, karena peserta dapat melihat bagaimana kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan di BBPP Batu dapat dikembangkan dan diterapkan dalam dunia usaha.
Toton membagikan pengalaman dan strategi penerapan CPPOB pada usaha pengolahan susu, mulai dari pemenuhan berbagai aspek penilaian hingga pentingnya dokumentasi dan bukti penerapan. Materi yang disampaikan merujuk pada 25 aspek penilaian dan 68 klausul CPPOB, yang mencakup manajemen dan personel, fasilitas dan lingkungan produksi, sanitasi dan higiene, pengendalian proses, penyimpanan, pengemasan, distribusi, hingga ketertelusuran dan tanggap darurat.
Kepala BBPP Batu Ugik Romadi sebelumnya juga menekankan bahwa pengolahan hasil susu memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Menurutnya, peningkatan kompetensi menjadi salah satu kunci agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha
BOC Volume 369 dimoderatori oleh Ilfarm Make Anirata, Widyaiswara Ahli Pertama BBPP Batu, serta dipandu oleh Dian Suci Rachmawati. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan menggali pengalaman narasumber terkait penerapan CPPOB pada usaha olahan susu.
Melalui penyelenggaraan Bertani on Cloud, BBPP Batu terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang mudah diakses masyarakat sekaligus mempertemukan peserta dengan praktisi yang memiliki pengalaman nyata di lapangan. Kehadiran alumni BBPP Batu sebagai narasumber juga menjadi gambaran bahwa kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan dapat dikembangkan menjadi bekal dalam membangun dan meningkatkan usaha peternakan serta pengolahan hasil peternakan. Dodik/BBPP BATU












