Meningkatkan produktivitas di tengah perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, dan kebutuhan efisiensi budi daya menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan dan mencapai swasembada pangan Indonesia. Untuk itu, inovasi perlu hadir tidak hanya di laboratorium, tetapi juga diterapkan secara tepat di lahan dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
Semangat tersebut menjadi bagian dari Rice Innovation Day, yang menjadi rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026 di Crop Protection Development (CPD) Syngenta, Cikampek, Karawang. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana riset, teknologi aplikasi, pengembangan varietas dan produk, hingga pengujian lapangan terintegrasi untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan pertanian Indonesia.
“Swasembada pangan tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan untuk terus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan ketahanan petani menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, inovasi harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan dan dapat diterapkan oleh petani,” ujar Eryanto, Presiden Direktur Syngenta Indonesia.
Menghubungkan Sains dengan Kebutuhan Petani
Berdiri sejak 1980, R&D Cikampek kini menjadi bagian dari jaringan riset global Syngenta dan Center of Excellence for Crop Protection Development kawasan Asia, Middle East and Africa (AMEA). Dengan fasilitas sekitar 14,5 hektare ditambah lima hektare lahan basah dan kering, R&D Cikampek mendukung penelitian dari tahap awal hingga pengujian lapangan, sebelum teknologi disesuaikan dengan kondisi pertanian lokal.
“Kami ingin memastikan apa yang dikembangkan melalui penelitian dapat menjawab tantangan yang benar-benar dihadapi petani. Karena itu, proses inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi terus diuji dalam kondisi nyata di lapangan,” ujar Nanin Noorhajati, CPD Head Syngenta Indonesia.
Teknologi untuk Efisiensi Budi Daya
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah drone untuk aplikasi perlindungan tanaman. Di tengah keterbatasan tenaga kerja, teknologi ini membuka peluang aplikasi yang lebih cepat dan presisi. Berdasarkan pengujian dan pengalaman lapangan Syngenta Indonesia, penggunaan drone dalam kondisi tertentu berpotensi mempercepat aplikasi hingga 30 kali, menghemat biaya perlakuan hingga 50%, serta mengurangi penggunaan air hingga 90% per hektare.
Pengembangan teknologi ini juga diiringi penyusunan standar operasional, pengembangan produk untuk aplikasi drone termasuk Ultra Low Volume (ULV), uji efikasi, serta edukasi dan pendampingan pengguna.
Melalui Application Technology Laboratory, pengunjung juga melihat bagaimana pemilihan nozzle, ukuran droplet, distribusi, dan pola semprotan dapat memengaruhi efektivitas aplikasi. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi pertanian tidak hanya bergantung pada produk atau perangkat, tetapi juga pada ketepatan penerapannya.
Dari Laboratorium ke Lahan
R&D Cikampek juga mendukung penelitian organisme pengganggu tanaman dan pengembangan solusi perlindungan tanaman, termasuk melalui isolasi fungi dan pemeliharaan serangga. Temuan dari penelitian kemudian dihubungkan dengan kondisi lapangan untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih relevan bagi petani. Selain itu, pengunjung diajak belajar mengenai pendekatan perlindungan tanaman sejak tahap awal melalui Rice Growth Staging and Seedcare, yang menunjukkan bagaiaman fase pertumbuhan dan perlindungan benih dapat membantu tanaman menghadapi tekanan hama dan penyakit sejak awal.
Saat Rice Innovation Day turut diperkenalkan juga NK Ningrat, varietas padi dengan karakter Bening, Berat, dan Tangguh. Bening mencerminkan kualitas dan penampilan beras, Berat menggambarkan potensi hasil panen yang tinggi, sementara Tangguh menunjukkan kemampuan tanaman menghadapi tantangan budidaya dan penyakit. Dengan karakter tersebut, NK Ningrat dirancang untuk menjawab kebutuhan petani, khususnya di lahan tadah hujan yang memiliki tantangan produktivitas lebih tinggi
Berbagai inovasi tersebut diarahkan untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.
Mendekatkan Teknologi kepada Petani
Mendekatkan teknologi dan pengetahuan kepada petani menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian. Dalam upaya memperkuat ketahanan dan swasembada pangan, peningkatan produktivitas di tingkat lahan perlu didukung oleh teknologi yang tepat, pendampingan, serta kolaborasi antara pemerintah, peneliti, industri, penyuluh, dan petani.
Ketua Tim Promosi Barang dan Jasa Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Seno Aribowo, mengatakan bahwa penguatan produktivitas pertanian perlu berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi dan hilirisasi.
“Pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan kedaulatan bangsa. Di tengah ketidakpastian global dan tantangan iklim, penguatan produktivitas pertanian perlu berjalan bersama dengan pengembangan teknologi dan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah bagi rantai pasok nasional dan petani,” ujarnya.
Melalui Rice Innovation Day, berbagai hasil riset dan teknologi diperlihatkan sebagai bagian dari upaya membawa inovasi lebih dekat kepada petani. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Petani MAJU untuk mempercepat inovasi yang dimulai dari kebutuhan petani, dikembangkan bersama, dan diterjemahkan menjadi solusi yang memberikan manfaat di lapangan.
Pada akhirnya, transformasi pertanian dibangun melalui inovasi yang tepat, teknologi yang dapat diakses, pengetahuan yang dibagikan, dan kolaborasi yang berkelanjutan—untuk membantu meningkatkan produktivitas petani sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan Indonesia
Tentang Syngenta
Syngenta adalah pemimpin global dalam inovasi pertanian dengan kehadiran di lebih dari 90 negara. Syngenta berfokus pada pengembangan teknologi dan praktik pertanian yang memberdayakan petani, sehingga mereka dapat melakukan transformasi yang diperlukan untuk memberi makan populasi dunia sambil melestarikan planet kita.
Penemuan-penemuan ilmiah yang berani dari Syngenta memberikan manfaat yang lebih baik bagi petani dan masyarakat dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya. Dipandu oleh Prioritas Keberlanjutan, Syngenta mengembangkan teknologi dan solusi baru yang mendukung petani untuk menumbuhkan tanaman yang lebih sehat di tanah yang lebih sehat dengan hasil panen yang lebih tinggi. Syngenta Crop Protection berkantor pusat di Basel, Swiss; Syngenta Seeds berkantor pusat di Amerika Serikat. Baca cerita kami dan ikuti kami di LinkedIn, Instagram, dan
Syngenta Indonesia adalah bagian dari Syngenta global dan telah hadir sejak tahun 1960-an melalui perusahaan legasinya. Syngenta Indonesia berkantor pusat di Jakarta dan memiliki empat fasilitas industri yaitu Pusat Riset dan Pengembangan Perlindungan Tanaman (Cikampek – Jawa Barat), Pabrik Produk Perlindungan Tanaman (Gunung Putri – Jawa Barat), Fasilitas Pengembangan Benih (Kediri – Jawa Timur), dan Pabrik Pemrosesan Benih (Pasuruan – Jawa Timur) yang disebut Syngenta Seed Indonesia. Lebih dari 800 karyawan kami berperan dalam memajukan pertanian di seluruh Indonesia.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Syngenta Indonesia silakan kunjungi www.syngenta.co.id dan Instagram
Perlindungan data sangat penting bagi kami. Anda menerima publikasi ini berdasarkan landasan hukum Pasal 6 ayat 1 huruf f GDPR (“kepentingan yang sah”). Namun, jika Anda tidak ingin menerima informasi lebih lanjut tentang Syngenta, cukup kirimkan pesan singkat kepada kami dan kami tidak akan lagi memproses data Anda untuk tujuan ini. Anda juga dapat menemukan rincian lebih lanjut dalam pernyataan privasi kami.
Pernyataan Peringatan Mengenai Pernyataan Berwawasan ke Depan
Dokumen ini mungkin mengandung pernyataan berwawasan ke depan, yang dapat diidentifikasi dengan penggunaan istilah seperti ‘mengharapkan’, ‘akan’, ‘potensi’, ‘rencana’, ‘prospek’, ‘diperkirakan’, ‘bertujuan’, ‘pada jalurnya’ dan ungkapan serupa. Pernyataan tersebut dapat dipengaruhi oleh risiko dan ketidakpastian yang dapat menyebabkan hasil aktual berbeda secara material dari pernyataan ini. Bagi Syngenta, risiko dan ketidakpastian tersebut meliputi risiko terkait proses hukum, persetujuan regulasi, pengembangan produk baru, peningkatan persaingan, risiko kredit pelanggan, kondisi ekonomi dan pasar secara umum, kepatuhan dan perbaikan, hak kekayaan intelektual, implementasi perubahan organisasi, penurunan nilai aset tak berwujud, persepsi konsumen terhadap tanaman dan organisme hasil rekayasa genetika atau bahan kimia pelindung tanaman, variasi iklim, fluktuasi nilai tukar dan/atau harga komoditas, pengaturan pasokan sumber tunggal, ketidakpastian politik, bencana alam, dan pelanggaran keamanan data atau gangguan teknologi informasi lainnya. Syngenta tidak berkewajiban untuk memperbarui pernyataan berwawasan ke depan guna mencerminkan hasil aktual, perubahan asumsi, atau faktor-faktor lainnya.










