Mendulang Untung Dari Tumpang Sari Jagung dan Singkong

Pola tanam tumpang sari antara jagung dengan singkong merupakan salah satu paket teknologi anjuran dalam upaya mensiasati budidaya dimusim kemarau agar tetap untung. Rohman salah seorang petani dari Desa Gosari Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik lazim menerapkan pola tanam ini mengatakan, “Pola tanam monokultur jagung atau singkong saja berisiko terhadap kekeringan dan fluktuasi harga di pasaran, sehingga bisa diterapkan pola tanaman tumpang sari jagung dan  singkong.”

Menurut Endang Purwanti, penyuluh pertanian di BPP Kostratani Ujungpangkah, pada per sekali musim tanam petani di Kecamatan Ujungpangkah terbiasa menerapakan tanam singkong bersamaan dengan jagung, dengan harapan jagung yang bisa dipanen pada umur 4 bulan diteruskan dengan tanaman singkong sampai 8 bulan, untuk varietas jagung yang ditanam biasanya menggunakan jagung Hibrida (bisi 2 atau Pertiwi)  sedang untuk singkongnya menggunakan varietas lokal yang memiliki ciri khas rasa pahit namun kandungan pati yang banyak.

“Tentu ketika dua atau lebih jenis tanaman tumbuh bersamaan akan terjadi interaksi, masing-masing tanaman harus memiliki ruang yang cukup untuk memaksimumkan kerjasama (cooperation) dan meminimumkan kompetisi (competition). Oleh karena itu, dalam tumpang sari perlu dipertimbangkan berbagai hal yaitu pengaturan jarak tanam, populasi tanaman, umur panen tiap-tiap tanaman, dan arsitektura tanaman,” ujar Endang Purwanti
Sangat menarik bukan dengan potensi keuntungan yang tinggi diharapkan bisa mendapatkan produktivitas hasil juga tinggi sehingga kesejahteraan petani meningkat pola tanam tumpangsari  jagung dan singkong laik untuk diusahakan.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian di masa yang akan datang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang serba maju, serba baru dan lebih modern.

Baca Juga :   Mentan Syahrul Dorong PPL Kuasai Kemampuan Teknologi

“Minimal dengan terjadinya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian,” terang SYL.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa Kostratani menjadi pusat pembelajaran, konsultasi agribisnis, termasuk juga pusat pengembangan jejaring kemitraan.

“BPP Kostratani mendukung gerakan pembangunan pertanian yang dilakukan dengan berbagai cara. Seperti pendampingan dan pengawalan gerakan pembangunan pertanian,” ujar Dedi. ISD/YENI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *