Pengelolaan Semut Api melalui Pendekatan Perilaku

Penulis:

Farriza Diyasti, dan Eva Lizarmi

Semut merupakan serangga sosial yang termasuk ke dalam ordo Hymenoptera dan family Formicidae. Organisme ini terkenal dengan koloni dan sarang yang teratur. Semut dibagi menjadi jenis semut pekerja, prajurit, pejantan, dan ratu. kehadiran semut pada ekosistem pertanian memiliki peranan yang kompleks. Semut memiliki fungsi ekologis dalam membantu tanaman menyebarkan benih (biji) untuk penyerbukan, menggemburkan tanah pertanian melalui pergerakannya di dalam tanah, menjadi predator bagi hama tanaman, dan aktivitas ekologis lain, termasuk sebagai simbion kutu daun (Falahudin, 2013). Spesies semut api (Solenopsis Invicta) dilaporkan memiliki gigitan yang menyakitkan seperti api dan menyebabkan pembengkakan pada bagian tubuh yang digigit karena adanya asam format yang diproduksi oleh kantung racun. Ciri khas kehadiran koloni semut ini yaitu adanya gundukan pasir yang dibentuk sebagai sarang. Selain menyengat, semut api juga sangat agresif, terlebih jika merasa mendapat gangguan dari luar, ratusan pekerja semut api akan berkerumun keluar dari gundukan berlari ke permukaan vertikal untuk menyengat. Ciri khas lain dari spesies ini yaitu adanya sarang gundukan di hampir semua jenis tanah, tetapi lebih menyukai area terbuka dan cerah seperti padang rumput, taman, halaman rumput, padang rumput, dan ladang yang dibudidayakan. Gundukan dapat mencapai ketinggian 18 hingga 24 inci, tergantung pada jenis tanahnya. Seringkali gundukan terletak di batang kayu yang membusuk dan di sekitar tunggul dan pohon. Koloni juga dapat terjadi di dalam atau di bawah bangunan. Shattuck (2001) menyatakan bahwa sarang semut jenis ini sering ditemukan pada area yang luas termasuk tanah baik tertutup atau tidak tertutup, antara bebatuan, kayu, diantara akar tanaman dan ranting pada semak-semak atau pohon.

Baca Juga :   AMM G20 Bali : Ciptakan Semangat Bersama Dalam Pemulihan Ekonomi Dunia di Sektor Pertanian

Dengan memerhatikan perilaku semut tersebut, maka langkah mmenyemprot semut pada ranting kurang efektif karena semut pekerja yang berada di luar sarang hanya <20% dari populasi (Oi, 2021). Dengan demikian pengelolaaan semut yang telah berada pada ambang batas populasi dapat ditempuh dengan melakukan pengumpanan pada sarang gundukan semut.

Pengumpanan secara nabati dapat menggunakan campuran molases dan citrus oil  yang disemprotkan pada sarang gundukan semut. Berdasarkan Jackman et al. (2005), pengumpanan dapat juga menggunakan insektisida kimiawi berbentuk butiran yang dicampurkan dengan makanan kesukaan semut seperti gula, ikan asin, dan sebagainya, kemudian ditaburkan pada sekeliling sarang gundukan semut. Menurut Ningsih (2019) penggunaan insektisida nabati berupa kapur semut dari ekstrak umbi gadung (Dioscorea hispida D.) dan bunga soka (Ixora paludosa L.) dapat digunakan sebagai pengganti kapur anti serangga sintetis dengan kandungan Deltametrin. Purba (2010) menyatakan umbi
gadung juga mengandung zat yang bersifat toksik atau anti makan pada serangga, yakni glikosida Sianogenik, alkaloid Dioscorin, dan senyawa pahit yang terdiri dari Saponin dan Sapogenin. Alkaloid Dioscorin dan HCN merupakan racun perut atau stomach poison. Selain itu juga flavonoid mempunyai sistem kerja masuk melalui system pernafasan jentik kemudian akan bereaksi merusak sistem pernafasan yang akan menyebabkan serangga sasaran tidak bisa bernafas dan mati, juga akan merusak sel saraf sehingga tidak bisa meneruskan impuls yang akan menyebabkan kelumpuhan dan kematian pada jentik. Senyawa atau unsur kimia bersifat toksik walaupun dalam konsentrasi rendah apabila masuk ke dalam tubuh.

Namun perlu disadari bahwa sebagian besar semut bermanfaat bagi kehidupan manusia pada kondisi populasi terkontrol, Penelitian Agrawal & Rastogi (2010) menyebutkan bahwa semut menunjukkan hubungan saling menguntungkan dengan tamanan, sebab semut tersebut mendatangi tanaman untuk mencari Extra floral Nectar sebagai makanan dan keberadaanya sekaligus sebagai pengendali hama. Hasil tersebut sesuai dengan pernyataan Odum (1998) yang menyatakan bahwa keanekaragaman identik dengan kestabilan ekosistem, yaitu jika keanekaragaman semut tinggi, maka kondisi ekosistem cenderung stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *