Teknologi CSA Sukses, Petani Kebumen Sejahtera

Kabupaten Kebumen di Provinsi Jawa Tengah, sebagai salah satu pelaksana kegiatan Strategic Irrigation Modernization Urgent Project (SIMURP) menyeleggarakan panen raya Farmer Field Day (FFD) di lahan demplot Climate Smart Agriculture (CSA) SIMURP. Kegiatan dihadiri oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Pangan Kebumen, Camat Poncowarno, jajaran Muspika, penyuluh pertanian setempat serta seluruh perwakilan poktan.
Pelaksana kegiatan SIMURP di Kabupaten Kebumen mencakup 20 kecamatan, salah satunya Kecamatan Poncowarno. Di kecamatan ini, terdapat 24 kelompok tani (poktan) dari 10 desa penerima kegiatan SIMURP.

Kegiatan FFD berlokasi di Poktan Tunas Harapan Desa Jatipurus Kecamatan Buluspesantren dan menjadi bukti bahwa teknologi CSA SIMURP bisa meningkatkan pendapatan petani. Hasil ubinan lokasi demplot Teknologi CSA ukuran 2,5m x 2,5m, diperoleh gabah seberat 5,1 kg atau produktivitas sebesar 81,6 kw/ha (Gabah Kering Panen/GKP). Sedangkan non-CSA 4,6 kg ton/Ha dengan varietas padi Ciherang. Berdasarkan perhitungan ini terlihat bahwa terlihat selisih angka produktivitas yang menguntungkan secara finansial/ pendapatan bagi petani dengan menerapkan teknologi CSA dibandingkan dengan non CSA. Keuntungan diharapan juga pada keuntungan panen komoditas kedelai pada MT 3, sehingga capaian Indeks Pertanaman (IP) bisa mencapai 300. Keuntungan secara kualitas juga meningkat yaitu bulir padi yang dihasilkan lebih sehat karena budidaya pertanian yang ramah lingkungan.

Kepala Badan PPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan tantangan Pembangunan pertanian, climate change, degradasi lahan, saprodi terbatas, pupuk kimia mahal, produksi tidak efisien dan menurun.
Ia menambahkan Program SIMURP utamanya ditujukan untuk membangun resiliensi ketangguhan pertanian Indonesia terhadap climate change.

“Oleh karena itu, di dalam SIMURP disajikan berbagai inovasi teknologi yang betul-betul adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim yang terjadi. Juga mampu beradaptasi dari cekaman biotik yaitu tahan hama penyakit, maupun abiotik yaitu kekeringan dan banjir serta intrusi air laut,” jelas Dedi.
Retno Andanasari/ Yeniarta

Baca Juga :   Gebyar Kostrada Sidoarjo Menuju Pertanian Maju Mandiri Modern

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *