Kementan Latih Pemuda Tani Berwirausaha, Peluang Bisnis Yang Berkelanjutan

MALANG – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan melaksanaan Pelatihan Kewirausahaan bagi Pemuda Tani pada 13-17 Mei 2024. Kegiatan ini merupakan hasil tindak lanjut dari hasil seleksi identifikasi kebutuhan pelatihan (IKP) Pelatihan Kewirausahaan bagi Pemuda Tani, pada 22 – 26 April 2024 lalu.

Penetapan hasil peserta merupakan rekomendasi sesuai yang dipersyaratkan saat IKP yang diikuti oleh 30 orang peserta yang berasal dari 16 kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Pelatihan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan (entrepreunership). Dimana jiwa wirausaha ialah mampu menciptakan nilai tambah dari keterbatasan dalam upaya menciptakan nilai tambah, dengan menangkap peluang bisnis, serta mengelola sumber daya untuk mewujudkannya. Selain itu, sarat akan perwujudan ide-ide inovatif dan kreatif yang dimiliki dalam mengembangkan dan mewujudkan segala visi dan misi.

Minat generasi muda yang berperan aktif di sektor pertanian masih sangat kurang. Kondisi inilah yang menjadi perhatian khusus bagi Kementerian Pertanian dimana pengembangan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian berperan penting menggenjot produktivitas pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan kaum milenial sangat prospektif untuk diajak menggarap sektor pertanian, baik sebagai petani muda maupun wirausaha muda.

Pelatihan merupakan salah satu langkah yang efektif sebagai solusi untuk menjawab kebutuhan serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam pengembangan SDM pertanian, khususnya bagi para pemuda tani yang bergerak di sektor pertanian.

“Petani milenial ini sangat dinamis. Mereka menguasai teknologi hingga memiliki akses pasar yang kuat,” kata Dedi.

Lebih lanjut, Dedi menegaskan, status milenial sebagai penerus pembangunan pertanian di Indonesia.

“Kaum milenial sekarang harus bergabung menggeluti bisnis pertanian yang sangat menjanjikan. Kalau petani milenial tumbuh maksimal, maka ke depan pertanian semakin cerah dan menjanjikan,” kata Dedi.

Baca Juga :   Ditjenbun Bersinergi dengan Komisi IV Perkuat Produksi dan Pemberdayaan Pekebun

Sementara itu, Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, mengatakan bahwa metode pelatihan yang digunakan dalam pelatihan kewirausahaan ini adalah berbasis kompetensi kerja antara lain melalui pendekatan Experiential Learning Cycle (ELC) atau AKOSA (Alami, Kemukakan, Olah, Simpulkan, Aplikasikan) yang mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada pengalaman dan memungkinkan peserta untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam dan penerapan yang lebih efektif dari keterampilan dan pengetahuan yang dipelajari.

”Saya berharapa semua peserta bisa mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama mengikuti pelatihan. Salah satu kunci suksesnya pelatihan adalah, peserta berhasil mengaplikasikan ilmu yang diperoleh saat pelatihan,” tandas Nurul. Yeniarta/Nadif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *