KEDIRI – Upaya mendukung swasembada pangan nasional terus dilakukan petani di berbagai daerah, termasuk di Kota Kediri. Petani tebu, Supono, yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Podo Rukun, Lingkungan Cakarsi, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, melakukan pengolahan lahan tebu keprasan dengan tetap mengandalkan teknologi tradisional yang efisien dan ramah lingkungan, Kamis (8/1/2026).
Dalam kegiatan pengolahan lahan tersebut, Supono didampingi penyuluh pertanian Kementerian Pertanian, Agus Fatony Tohari. Pendampingan ini bertujuan memastikan praktik budidaya tebu dilakukan sesuai kondisi lahan, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan produktivitas petani binaan.
Proses pengolahan diawali dengan pedot oyot atau pemotongan akar tebu keprasan yang bertujuan merangsang pertumbuhan akar baru agar tanaman dapat tumbuh lebih sehat, optimal dan produktif pada musim tanam berikutnya. Pedot oyot merupakan metode pengolahan lahan yang umum dilakukan pada tebu keprasan atau ratoon cane (RC).
Teknik ini bertujuan memutus akar lama agar merangsang pertumbuhan akar baru, sehingga tanaman tebu dapat tumbuh lebih sehat dan optimal pada musim berikutnya
Menariknya, proses pedot oyot hingga pengolahan lahan dilakukan menggunakan teknologi konvensional dengan memanfaatkan tenaga sapi. Pengolahan lahan memakai singkal sapi dinilai masih sangat relevan bagi petani khususnya di wilayah dengan karakteristik lahan tertentu serta untuk lahan pertanian skala kecil hingga menengah. Selain biaya yang relatif murah, metode ini juga terbukti efektif dan berkelanjutan.
“Pengolahan lahan dilakukan dengan menggunakan singkal sapi dengan biaya rata-rata Rp 850.000 – 1.300.000 per hektar, tergantung kondisi lahan dan lama pengerjaan. Cara ini cukup efisien dan minim dampak lingkungan. Selain hemat biaya, cara ini juga minim penggunaan bahan bakar fosil sehingga lebih ramah lingkungan.” ujar Agus Fatony Tohari di sela kegiatan pendampingan.
Lanjut Agus, penerapan teknologi tradisional tidak selalu identik dengan ketertinggalan. Dalam kondisi tertentu, metode konvensional justru dapat menjadi solusi tepat guna yang mendukung pertanian berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa penerapan metode tradisional masih relevan, hemat biaya, dan ramah lingkungan, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong optimalisasi potensi pertanian rakyat dengan mengedepankan kearifan lokal.
“Petani adalah ujung tombak swasembada pangan. Inovasi tidak selalu harus mahal dan modern, tetapi harus tepat guna, meningkatkan produktivitas, dan menjaga kelestarian lingkungan,” kata Mentan Amran.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mendampingi petani.
“Pendampingan penyuluh memastikan petani menerapkan praktik budidaya yang sesuai kondisi lahan dan berkelanjutan. Inilah kunci untuk memperkuat ketahanan pangan dari tingkat lokal hingga nasional,” tutur Santi.
Melalui kolaborasi dan sinergi antara petani, kelompok tani, dan penyuluh pertanian, praktik pertanian tradisional yang adaptif diharapkan mampu berkontribusi nyata terhadap peningkatan produksi pertanian, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkokoh ketahanan dan swasembada pangan nasional.
Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Pertanian dalam memperkuat peran petani dan kelompok tani sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional. Dengan optimalisasi lahan dan penerapan teknik budidaya yang sesuai, diharapkan produktivitas tebu rakyat dapat terus meningkat dan berkontribusi pada target swasembada pangan. Agus Fathony Tohari/ Adhis Millia Windhy*








