MADURA – Keberhasilan suatu pelatihan bukan hanya dilihat dari peningkatan kompetensi peserta melalui pre dan post test, tetapi juga melalui keberhasilan dari implementasi setelah mengikuti pelatihan dengan melaksanakan rencana tindak lanjut secara nyata. Seperti yang telah dilakukan oleh Fani Mutmainah, alumni pelatihan di UPT Pelatihan Pertanian Provinsi Jawa Timur.
Selepas mengikuti pelatihan pada pertengahan tahun 2025, ia melipat potensi tanaman toga di daerahnya, yakni Dusun Koalas, Desa Jukong, Kecamatan Labang, Bangkalan, Madura. Hasil toga sangat melimpah dan sangat murah ketika panen raya. Berbekal pengetahuan dari pelatihan, ia mulai membuat berbagai olahan tanaman toga dan mengemas agar nilai ekonomisnya terlihat semakin tinggi. Bahwa pertanian tidak berhenti pada tahap budidaya, tetapi dapat dilanjutkan pada tahap hilirisasi atau pengolahan hasil. Konsep ini dinilai penting agar produk pertanian memiliki nilai tambah sebelum sampai ke konsumen.
Dengan branding “Malara”, produk yang dihasilkan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
Menurut Fani, brand “Malara” memiliki makna baginya, karena kesan yang dalam saat mengikuti pelatihan di Malang, sehingga ia bisa meluncurkan produk ini di Madura dan memberi nama “Malara” yang artinya Malang Madura.
“Seiring berjalannya waktu karena pesanan semakin banyak kemudian saya berinovasi dalam kemasan agar prodkk saya semakin menarik dan mudah di kenali. Dengan hasil olahan tanaman toga kami memiliki berbagai jenis varian seperti serbuk jahe merah, manisan jahe, dll.
Ia juga menambahkan bahwa usahanya ini juga mampu meenyerap hasil panen petani toga di lingkungan sekitarnya dan membelinya dengan harga yang normal walaupun sedang panen raya. Sehingga saling berkolaborasi dalam peningkatan nilai ekonomi,”jelas Fani saat ditemui di sela-sela kegiatannya Rabu (7/1/2026).
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendukung hilirisasi sektor pertanian.
Dengan hilirisasi, Mentan Amran meyakini mampu memperkuat industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing di pasar global.
Sejalan pernyataan Mentan Amran, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, juga menegaskan bahwa pertanian harus berubah dari metode konvensional menjadi lebih modern, dengan pengolahan pascapanen yang memadai untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai lebih tinggi dan berdaya saing di pasar.
“SDM pertanian yang unggul menjadi kunci dalam keberhasilan hilirisasi. Fokusnya adalah pada pendidikan vokasi untuk menciptakan petani dan wirausahawan muda yang profesional, mandiri, berdaya saing, dan berjiwa wirausaha,”jelas Santi. Fani Mutmainah/ Laila Nuzuliyah*








