KEDIRI – Pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pendekatan berbasis rumah tangga dan kawasan perkotaan. Upaya ini diwujudkan melalui pendampingan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian, Agus Fatony Tohari, kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangun Sejahtera di Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (27/1/2026).
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari penguatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) berbasis urban farming untuk meningkatkan kemandirian pangan keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Melalui kegiatan ini, penyuluh memberikan bimbingan teknis budidaya terpadu, meliputi tanaman hortikultura, perikanan, dan peternakan skala pekarangan.
Program P2L merupakan kebijakan nasional penguatan KRPL yang diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan bergizi, sekaligus mengendalikan inflasi pangan dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Ketua KWT Bangun Sejahtera, Sutiyah, menjelaskan kelompoknya mengelola lahan pekarangan seluas 90 ru atau sekitar 0,12 hektare dengan sistem urban farming terpadu. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk menanam sayuran daun, sayuran buah, dan tanaman buah, serta dikombinasikan dengan budidaya ikan lele di kolam permanen 2 x 3 meter dan peternakan kambing dengan kandang 2 x 8 meter.
“Pendampingan penyuluh sangat membantu penerapan budidaya terpadu. Hasilnya tidak hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga mulai memberi nilai tambah ekonomi bagi anggota,” ujar Sutiyah.
PPL Agus Fatony Tohari menegaskan bahwa pendampingan P2L tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga penguatan kapasitas kelompok dan strategi konkret memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.
“Melalui KRPL dan urban farming, pekarangan dapat menjadi sumber pangan sehat, sarana edukasi, sekaligus model pemberdayaan ekonomi keluarga, khususnya perempuan di wilayah perkotaan,” jelasnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan penguatan pangan berbasis rumah tangga sebagai strategi menghadapi ketidakpastian global.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari desa dan rumah tangga. Optimalisasi pekarangan melalui P2L menjadi solusi strategis untuk ketersediaan pangan, pemenuhan gizi, dan peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa keberhasilan P2L sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan penyuluh.
“Penyuluh adalah ujung tombak kebijakan pertanian. Pendampingan berkelanjutan mendorong adopsi inovasi, peningkatan produktivitas, dan daya saing pertanian,” tuturnya.
KWT Bangun Sejahtera menjadi contoh penerapan Pekarangan Pangan Lestari di kawasan perkotaan. Aktivitas kelompok dapat diakses melalui Instagram @basefarm_ dan Google Maps KWT Bangun Sejahtera Kelurahan Burengan.
Sinergi kebijakan pemerintah, peran penyuluh, dan partisipasi masyarakat diharapkan memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Agus Fatony Tohari/ Adhis Millia Windy*












