Tegal – Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu kembali menggelar Bertani On Cloud (BOC) Volume 341 bertema “Peluang Bisnis Silase Modern”, Kamis (12/02/2026). Kegiatan dilaksanakan daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung di YouTube BBPP Batu, menghadirkan narasumber Adhi Yusron, Pemilik Kandang Pakan Tegal, Jawa Tengah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya kemandirian pakan sebagai kunci peningkatan daya saing peternakan nasional.
“Kemandirian pakan menjadi fondasi utama peternakan yang berdaya saing dan berkelanjutan. Kita dorong peternak memanfaatkan potensi lokal dengan inovasi dan teknologi tepat guna,” tegas Mentan Amran.
Senada, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menyatakan BOC merupakan komitmen pemerintah membangun SDM pertanian yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
“Melalui pelatihan daring seperti BOC, kita membuka akses belajar tanpa batas bagi seluruh pelaku pertanian. Inovasi pakan lokal adalah langkah konkret menuju peternakan yang efisien, mandiri, dan berdaya saing global,” ujar Santi.
Kegiatan dibuka Kepala BPPSDMP yang diwakili Kepala BBPP Batu, Ugik Romadi. Ia menegaskan tema silase modern relevan dengan program Kementerian Pertanian dalam pengendalian bahan pakan sebagai langkah strategis menjaga stabilitas harga pangan.
Ugik menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar pengembangan ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Komoditas ini tidak hanya menyediakan protein hewani berupa daging dan susu, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian pangan, pengendalian inflasi, pencegahan stunting, hingga penciptaan lapangan kerja di pedesaan.
“Dalam usaha ternak ruminansia, biaya pakan mencapai 60–70 persen dari total produksi. Karena itu, efisiensi manajemen pakan melalui pemanfaatan bahan lokal dan teknologi silase menjadi kunci menjaga profitabilitas,” ujar Ugik.
Silase merupakan hijauan yang diawetkan melalui fermentasi anaerob menggunakan bahan seperti rumput, tebon jagung, dan limbah pertanian. Hasilnya pakan beraroma asam segar, lebih tahan lama, dan memiliki daya cerna lebih baik. Penggunaan mesin baller silase meningkatkan kepadatan, menekan risiko jamur, mempermudah distribusi, dan mempercepat proses produksi dibanding metode tradisional.
Dalam paparannya, Adhi Yusron menyampaikan meningkatnya kesadaran peternak terhadap efisiensi pakan dan tenaga kerja membuka peluang bisnis silase modern. Produk silase kemasan wrapping memiliki daya tahan logistik tinggi sehingga dapat dipasarkan lebih luas, termasuk untuk peternak dengan keterbatasan lahan dan tenaga kerja.
Berdasarkan analisis biaya, produksi silase modern diperkirakan sekitar Rp900 per kilogram dengan harga jual Rp1.100 per kilogram, sehingga terdapat margin sekitar Rp200 per kilogram. Namun, pelaku usaha tetap perlu memperhitungkan investasi mesin, kualitas plastik wrapping, biaya distribusi, serta risiko kerusakan mesin dan kontaminasi jamur.
Melalui BOC Volume 341 ini, BBPP Batu berharap peserta yang terdiri dari penyuluh, peternak, kelompok ternak, hingga generasi muda pertanian memperoleh wawasan dan motivasi mengembangkan usaha silase modern sebagai solusi penyediaan pakan, khususnya saat musim kemarau dan keterbatasan hijauan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BBPP Batu dalam memperkuat kapasitas SDM peternakan serta mendorong ketahanan pangan nasional berbasis inovasi dan teknologi. BBPP BATU







