Mengenal Hama Uret Tebu dan Pengendaliannya

Oleh :

Erna Zahro’in (POPT BBPPTP Surabaya)

dan

Nono Suharyono (Pranata Humas Ahli Madya Ditjenbun)

 Salah satu kendala yang membatasi produksi tanaman tebu adalah serangan hama dan penyakit. Di Kabupaten )Kediri, merupakan sentra budidaya tebu di Provinsi Jawa Timur karena memiliki iklim yang sesuai. Budidaya tanaman tebu di Kabupaten Kediri banyak diusahakan pada tekstur tanah berpasir, sehingga memicu serangan uret Lepidiota stigma.  Serangan hama ini pada kategori serangan berat mampu menurunkan hasil hingga 50%.

Gejala serangan pada tanaman yang terserang hama L. stigma adalah pada tanaman muda pucuk tanaman menjadi layu, kemudian menguning mirip gejala kekeringan, dan apabila terjadi serangan yang parah dapat menyebabkan tanaman mati. Perbedaan antara gejala kekeringan dan gejala akibat serangan L. stigma sangat mudah untuk dilihat. Pada gejala kelayuan akibat kekeringan, kelayuan tampak merata pada areal pertanaman, apabila belum terlambat untuk diberi air, kelayuan berangsur-angsur pulih kembali. Sedangkan pada gejala yang disebabkan oleh serangan L. stigma sifatnya tidak merata dan meskipun sudah diberi air tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pulih karena kelayuan tersebut terjadi akibat adanya kerusakan pada akar yang merupakan alat penyerap zat hara dan air dari dalam tanah sehingga pengangkutan zat hara dan air menjadi terhenti (Wiriatmodjo, 1979).

Bagian pangkal tanaman tebu yang terserang L. stigma dapat kehilangan semua akar dan terbentuk rongga-rongga gerekan yang besar pada bagian pangkal batang. Pada tanaman tebu yang sudah tua, gejala yang ditimbulkan akibat serangan L. stigma adalah layunya pucuk tanaman, daunnya mengering, dan akhirnya roboh dan mati (Wiriatmodjo, 1979). Pada umunya L. stigma menimbulkan kerusakan yang parah pada tanah yang dominan berpasir, tanah dengan keremahan tinggi, dan tanah-tanah berkerikil (Kalshoven, 1981).

Baca Juga :   Kementan Perkuat Penanganan Kelapa Sawit Untuk Hadapi Tantangan Global

Daur hidup L. stigma secara keseluruhan adalah 13 bulan 27 hari, yaitu stadia telur selama 15 hari yaitu sekitar bulan November-Januari; stadia larva 9 bulan yaitu larva instar 1 terjadi pada bulan Desember–Februari, larva instar 2 pada bulan Februari-Maret,larva instar 3 pada bulan April–Juni, dan larva instar 4 pada bulan Juni–Juli. Sedangkan stadia pre pupa  terjadi selama 12 hari yaitu pada bulan Juli-Agustus, stadia pupa selama 1 bulan pada bulan Agustus-Oktober, dan masa hidup imago selama 3 bulan yaitu pada bulan Oktober–Desember (Anonim, 1999).

Imago yang baru keluar dari pupa menuju ke dekat permukaan tanah dan akan segera terbang keluar apabila kondisi lingkungan mulai basah (awal musim hujan). Musim penerbangan terbesar terjadi pada bulan Oktober–November. Imago L. stigma tertarik pada cahaya lampu. Imago makan dedaunan dalam jumlah terbatas. Jarak terbang imago tidak terlalu jauh, dan pada umumnya akan meletakkan telur di lokasi semula, oleh karena itu hama ini bersifat endemis. Preferensi imago dalam meletakkan telur berhubungan dengan tingkat porositas dan kelembaban tanah (Mudjiono, 2010).

Teknik pengendalian uret tebu dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

1.    Pengendalian secara mekanis yaitu mengambil uret tebu pada saat pengolahan tanah, memasang jarring dan lampu perangkap kumbang uret saat masa penerbangan imago (awal musim hujan)

2.    Pengendalian Secara Hayati dengan memanfaatkan musuh alami seperti Nematoda entomopatogen Steinernema sp. dan Heterorhabditis sp. dengan dosis 20 spons/Ha.

3.    Secara kultur teknis dengan cara pergiliran tanaman dengan menanam komoditas yang bukan inang dengan tujuan memutus siklus hidup dari hama tersebut.

4.    Secara kimia sebagai alternative terakhir dengan cara bijaksana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *