BATU – Mobil Keliling Layanan Gratis Peternakan atau Biling Yannak Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu kembali hadir di tengah masyarakat. Kali ini, layanan edukasi dan pelatihan peternakan tersebut menyasar 20 peternak yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Urip, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jumat (12/12/2025).
Inisiatif ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengenai pentingnya orientasi pelayanan publik untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak.
“Saya telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran bahwa kita adalah pelayan rakyat. Pelayanan publik yang baik menjadi salah satu kunci keberhasilan sektor pertanian,” tegas Menteri Pertanian dalam berbagai kesempatan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, terus menekankan pentingnya peningkatan kapasitas petani dan peternak melalui program-program penguatan SDM guna mewujudkan pertanian modern yang tangguh dan berdaya saing.
Kegiatan Biling Yannak di Giripurno dilaksanakan usai salat Jumat, dengan lokasi pelatihan terpusat di rumah Ketua Gapoktan Sumber Urip. BBPP Batu menugaskan dua widyaiswara, yakni Ari Khiyatil Jaliyah dan Renny Chrisdiana, untuk memberikan pelatihan langsung kepada para peternak. Materi yang disampaikan berfokus pada teknologi pakan dan nutrisi ternak ruminansia, khususnya sapi perah serta kambing dan domba.
Dalam sesi praktik, Ari Khiyatil Jaliyah menjelaskan sekaligus mempraktikkan penyusunan pakan konsentrat untuk sapi perah. Ia memaparkan bahwa standar pakan sapi perah ideal terdiri atas 60 persen hijauan dan 40 persen konsentrat. Kebutuhan hijauan minimal sebesar 10 persen dari bobot badan, sedangkan konsentrat berkisar 1–2 persen dari bobot badan.
“Untuk sapi dengan bobot 300 hingga 500 kilogram, kebutuhan hijauan berada pada kisaran 30 sampai 50 kilogram per hari, sedangkan konsentrat sekitar 3 sampai 6 kilogram. Komposisi ini penting agar produksi susu dapat optimal,” jelasnya.
Ari juga menekankan bahwa kebutuhan pakan sangat dipengaruhi oleh fase laktasi, tingkat produksi susu, serta berat badan sapi. Pada fase laktasi tinggi, sapi membutuhkan konsentrat dalam jumlah lebih besar, didukung dengan ketersediaan air minum bersih secara terus-menerus atau ad libitum. Selain itu, hijauan sebaiknya diberikan terlebih dahulu sebelum konsentrat untuk mencegah gangguan pencernaan seperti asidosis.
Dari sisi kualitas, pakan konsentrat harus memenuhi standar nutrisi, terutama Protein Kasar (PK) dan Total Digestible Nutrient (TDN). PK yang dianjurkan berada pada kisaran 16–18 persen, sementara TDN umumnya berkisar antara 60–80 persen, tergantung bahan baku dan formulasi konsentrat yang digunakan.
Sementara itu, Renny Chrisdiana menyampaikan materi mengenai pemilihan dan budidaya hijauan pakan ternak berkualitas, mulai dari pemilihan bibit, teknik tanam, hingga waktu panen yang tepat. Ia mengenalkan berbagai jenis rumput unggulan seperti Rumput Gajah, Pakchong, Raja, Benggala, Odot, Setaria, Meksiko, dan Zanzibar, yang dikenal memiliki kandungan nutrisi baik, produktivitas tinggi, serta relatif mudah dibudidayakan di berbagai kondisi lahan.
Penyuluh Pertanian Desa Giripurno, Gatot Sutrisno, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara BBPP Batu dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu. Menurutnya, kehadiran Biling Yannak memberikan dampak nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak.
“Kegiatan ini sangat membantu peternak dalam memahami teknologi pakan yang tepat. Harapannya, dengan kompetensi yang terus meningkat, kesejahteraan peternak dan keluarganya juga dapat ikut terangkat,” ujarnya.
Melalui Biling Yannak, BBPP Batu terus berkomitmen mendekatkan layanan pelatihan dan pendampingan kepada peternak, sekaligus memperkuat peran SDM peternakan dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. BBPP BATU












